LPTP

Darurat Sampah : Ayo Pilah Sampah dari Rumah

Darurat Sampah : Ayo Pilah Sampah dari Rumah

Pasuruan, 23 September 2026 — Upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan tangguh terhadap perubahan iklim terus dilakukan di Desa Tenggilisrejo melalui kegiatan Edukasi Pemilahan Sampah Rumah Tangga pada Rabu (23/9/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.30 WIB ini diikuti oleh 10 laki-laki dan 28 perempuan dari unsur kader kesehatan, pemerintah desa, bidan desa, serta warga masyarakat.
Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, kegiatan ini menjadi bagian dari aksi nyata Desa Tenggilisrejo dalam mendukung implementasi program Desa Sehat Iklim.
Dalam sambutannya perwakilan pemerintah desa menyampaikan bahwa upaya pengelolaan sampah di Desa Tenggilisrejo telah berjalan selama beberapa tahun dengan pendampingan LPTP. Dari upaya ini diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa persoalan sampah bukanlah masalah sepele. Penyelesaiannya perlu dimulai dari perubahan kebiasaan setiap individu dan keluarga, terutama melalui pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah yang tidak dipilah sejak awal akan semakin sulit dikelola ketika telah menumpuk dan bercampur di tempat penampungan sementara.
Edukasi DEKSI
Kegiatan pilah sampah merupakan bagian dari DEKSI, yaitu pendekatan edukasi dan aksi yang berkaitan dengan pengendalian penyakit berbasis vektor serta kesehatan lingkungan dalam konteks perubahan iklim.
Dari pemaparan LPTP, peserta diajak memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan, perubahan iklim, dan risiko penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti nyamuk dan lalat. Lingkungan yang kotor, genangan air, serta sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangbiakan vektor pembawa penyakit.
Materi tersebut membahas empat persoalan kesehatan yang menjadi perhatian, yaitu demam berdarah, diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan malaria. Pengelolaan sampah menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan, meskipun setiap penyakit memiliki jalur penularan dan faktor risiko yang berbeda.
Melalui hal ini, masyarakat diharapkan memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan keindahan desa, tetapi juga merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Mengubah Menjadi Manfaat
Secara umum, sampah rumah tangga dapat dikelompokkan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik, seperti sisa sayuran, kulit buah, dan sisa bahan makanan tertentu, dapat diolah menjadi kompos. Bahan organik yang sesuai juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau budidaya maggot dengan memperhatikan jenis bahan dan cara pengolahannya.
Sementara itu, sampah anorganik yang memiliki nilai guna, seperti botol plastik, kertas, kardus, dan kemasan tertentu, dapat dikumpulkan secara terpisah untuk dijual melalui pengepul atau disalurkan ke sistem pengelolaan sampah yang tersedia. Di beberapa skema pengelolaan, sampah anorganik juga dapat ditukar dengan barang kebutuhan rumah tangga.
Pemilahan sampah dapat dilakukan dengan cara sederhana di rumah masing-masing. Masyarakat cukup menyediakan wadah berbeda untuk sampah organik dan anorganik, kemudian membiasakan seluruh anggota keluarga untuk membuang sampah sesuai jenisnya.
Pemilahan dari sumber menjadi penting karena sampah yang sudah bercampur dan menumpuk di tempat penampungan akan lebih sulit dipisahkan. Dengan demikian, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah diharapkan dapat mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali bahan yang masih bernilai.

40 Komposter dan Penghijauan Dua Gang Dusun
Sebagai tindak lanjut kegiatan, LPTP akan menyediakan sebanyak 40 unit komposter bagi peserta dan masyarakat Desa Tenggilisrejo sebagai aksi untuk memulai menerapkan pemilahan sampah dari rumah serta memanfaatkan komposter untuk mengolah sampah organik yang sesuai menjadi kompos.
Pelaksanaan program akan disertai monitoring setiap bulan untuk melihat perkembangan penerapan pemilahan sampah, penggunaan komposter, serta kendala yang dihadapi masyarakat. Pemantauan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kegiatan agar tidak berhenti pada sosialisasi semata, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, dua gang di dusun yang telah dipilih akan menjadi lokasi penghijauan melalui kegiatan penanaman tanaman. Aksi ini menjadi bagian dari implementasi DEKSI di Desa Tenggilisrejo, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan permukiman yang lebih hijau, bersih, dan nyaman.

Oleh : Rozi, Sandhy, Fichri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top