LPTP

Taktik Jitu ‘Babe’: Modal Tumpang Sari Organik, Petani Modern Full Kimia Bisa Kalah Telak.

Wonosobo – Aktivitas baru yang digeluti oleh Slamet Mujiono (53) yang akrab disapa Babe oleh masyarakat, memutuskan menjadi seorang petani di usia setengah abad. Warga yang dikenal sederhana dan pekerja keras serta aktif di masyarakat ini, kini merasakan manfaat besar dari pemanfaatan kebun miliknya yang sebelumnya ia sewakan kepada orang lain sebelum dirinya memutuskan untuk beralih profesi sebagai petani.

Taktik Jitu ‘Babe’: Modal Tumpang Sari Organik, Petani Modern Full Kimia Bisa Kalah Telak.

Perjalanan memanfaatkan lahan pertanian dimulai sejak pandemi covid-19, dirinya memutuskan berhenti dari pekerjaannya yang sebelumnya adalah wiraswasta dan pekerja bengkel menjadi seorang petani di wilayah pertanian monokultur di lereng dieng. Melalui pengalaman dan berbagai percobaan yang dilakukan mulai dari teknik penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil panen secara optimal, Babe menjadi salah satu petani yang meyakini konsep pertanian tumpang sari di era petani lereng dieng hanya menanam satu jenis sayuran pada lahan berhektar-hektar. Setelah mengenal dan mendapatkan dampingan dari LPTP-AQUA pada program Wonosobo Tangkas Lestari, Babe mendapatkan berbagai pelatihan pada sekolah lapang pertanian.

Ilmu yang diperoleh dari mengikuti sekolah lapang tersebut tidak berhenti sebagai teori semata. Babe langsung menerapkan di lahan pertaniannya seluas 2900 m². Dengan memanfaatkan lahan pertanian yang sebelumnya ia sewakan dan ditanami oleh satu jenis sayuran khas petani lereng dieng (kentang/kubis/tomat/cabe) yang pada penerapannya banyak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetis, kini ia mulai menanam dengan sistem tumpang sari dengan berbagai jenis sayuran seperti sawi putih, wortel, buncis, labu, selada dan kapri dengan tidak menggunakan bahan kimia dalam proses penanaman hingga panen.

Ketelatenan Babe dalam merawat tanaman membuahkan hasil yang cukup baik. Sayuran yang dipanen dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dan tentunya lebih sehat.

Menurut Babe, teknik tumpang sari organik dapat mengurangi pengeluaran belanja pupuk dan hasil penjualan panen juga mampu menambah pendapatan keluarga karena sistem panen yang bergantian dan tidak menunggu musim.

“Dulu lahan kalau tidak pakai pestisida dan pupuk kimia, pasti petani bangkrut karena diserang hama, apa lagi yang ditanam hanya satu jenis pasti petani rugi” ungkap babe.

Di era yang serba mahal dan sulitnya ekonomi, apalagi di desa yang aksesnya jauh dari kota besar, upaya ini menjadi aktivitas mahal demi keberlangsungan hidup  dan pemenuhan gizi juga ekonomi keluarga dan keberlanjutan kelestarian alam. Tiga tahun terakhir ini LPTP bersama AQUA saling bahu-membahu melalui program pertanian organik dan konservasi sebagai langkah mengembalikan kelestarian alam, mengajak masyarakat untuk terus menyadari bahwa melestarikan alam sekitar akan berdampak positif bagi perekonomian.

“Di era gempuran petani full kimia dengan panen ber ton ton di area lereng dieng, saya salut dengan babe yang masih mau menerapkan sistem tumpang sari dan organik selain itu juga beliau mau menerapkan sistem rorak di lahan pertanian nya” ujar Lely Fasilitator LPTP Program Wonosobo.

Disisi lain, Babe juga tidak tinggal diam. Ia terus berupaya melalui ilmu yang didapat dari Sekolah Lapang bersama LPTP-AQUA untuk disebarluaskan kepada Petani di Sekitar lahannya.

Kisah Babe menjadi contoh nyata bahwa pemanfaatan tumpang sari organik bersama rorak dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kelestarian alam.

“Saya memutuskan memakai sistem tumpang sari karena hasilnya yang bisa langsung dirasakan tanpa menunggu musim panen yang lama sehingga ekonomi keluarga selalu tercukupi dan berputar karena panen selalu bergantian, selain itu pupuk organik harganya lebih murah karna bisa dibikin sendiri. Adanya rorak juga sangat membantu peresapan air, erosi tanah, dan bisa meningkatkan kesuburan tanah. Ituu adalah kombinasi yang sangat bagus, tapi tantangan nya adalah hama dari lahan sekitar yang di pestisida kimia larinya ke lahan saya.” terang Slamet Mujiono.

 

Oleh : Johan, Priyo, Laeli, Lely

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top