Boyolali — Lereng Gunung Merapi tidak hanya menyimpan potensi alam yang megah dan ancaman erupsi yang sewaktu-waktu bisa datang, tetapi juga menyimpan kekayaan flora yang luar biasa. Di antara rimbunnya hutan, tersimpan spesies anggrek khas Merapi yang keberadaannya kian terancam. Namun, di tengah kekhawatiran itu, ada tangan-tangan pemuda desa yang bergerak nyata menyelamatkannya.

Adalah Joko Susanto, atau yang akrab disapa Mas Joko, seorang pemuda asal Dukuh Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Lahir pada awal 90an, keseharian Mas Joko sebenarnya tidak jauh dari lahan pertanian. Komoditas utama petani di kawasan ini dulunya berfokus pada bunga mawar tabur. Kendati mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA, tekad Mas Joko untuk mengabdi dan memajukan lingkungan desanya jauh melampaui batasan formal.
Sejak tahun 2011 hingga hari ini, Mas Joko mendedikasikan dirinya sebagai garda terdepan dalam konservasi bunga anggrek Merapi.
Dari 11 Pemuda Menjadi Gerakan Konservasi Massal
Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem membuat Mas Joko tidak berjalan sendirian. Pada tahun 2016, ia menginisiasi berdirinya Kelompok Karya Muda. Beranggotakan 11 pemuda desa setempat, komunitas ini bergerak aktif menyelamatkan spesies anggrek endemik kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang hampir punah.
Di bawah kepemimpinannya sebagai ketua kelompok, gerakan ini berhasil mengubah wajah Dukuh Gumuk menjadi kawasan pengembangan dan konservasi anggrek. Hebatnya lagi, saat ini sudah ada lebih dari 50 jenis anggrek (baik asli Merapi maupun hybrid) yang berhasil dikembangkan di kawasan ini.
Sentuhan Teknologi Tepat Guna (TTG): Kultur Jaringan di Samping Rumah
Keberhasilan konservasi yang dilakukan Mas Joko bukan sekadar angan-angan, melainkan buah dari penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dikelola secara mandiri. Di samping rumahnya, berdiri sebuah laboratorium kultur jaringan sederhana dan sebuah greenhouse.
Dalam proses perbanyakan tanaman, Mas Joko menggunakan dua metode utama:
- Sistem Splitting (Pembelahan): Teknik vegetatif dengan cara membelah rimpang tanaman menjadi beberapa bagian untuk ditanam kembali, menghasilkan individu baru yang identik dengan induknya.
- Kultur Jaringan: Metode perbanyakan modern dengan memanfaatkan bagian vegetatif tanaman. Keunggulan metode ini adalah mampu mengembangbiakkan tanaman dalam jumlah besar, waktu yang relatif singkat, serta menghasilkan bibit-bibit unggul.
Hasil dari perbanyakan tersebut kemudian dirawat di dalam greenhouse. Bangunan berselubung transparan ini berfungsi untuk mengendalikan parameter lingkungan—seperti intensitas cahaya matahari, suhu, kelembapan udara, pasokan nutrisi, hingga angin dan konsentrasi . Dengan greenhouse, bibit anggrek terlindungi dari cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, serta serangan hama musiman yang mematikan.
Anggrek Merapi Tidak untuk Dijual, Tapi “Diadopsi”!
Ada hal unik dan prinsip tegas yang dipegang teguh oleh Mas Joko dan para pejuang lingkungan di Dukuh Gumuk. Anggrek Merapi murni tidak diperjualbelikan secara bebas.
Tanaman langka ini hanya dapat diadopsi dengan kisaran harga Rp700.000 per tanaman. Namun, kata “adopsi” di sini memiliki makna konservasi yang dalam: anggrek yang diadopsi tersebut wajib dikembalikan ke habitat alam aslinya di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.
Tentu perjalanan ini bukan tanpa hambatan. Mas Joko kerap menghadapi tantangan teknis seperti kontaminasi jamur hitam pada toples kultur jaringan akibat sterilisasi yang kurang sempurna. Selain itu, tantangan terbesar lainnya adalah minimnya minat pihak luar untuk mengadopsi dan mengembalikan anggrek ke habitat aslinya.
Untuk menyiasatinya, Mas Joko terus memperketat standar higienis laboratoriumnya dan mengelola keuangan hasil adopsi secara transparan guna menunjang operasional, perbaikan alat laboratorium, serta dana cadangan tak terduga.
Dampak Nyata: Dari Konservasi Menuju Ekowisata Desa
Jerih payah Mas Joko dan Kelompok Karya Muda kini berbuah manis. Gerakan konservasi ini tidak hanya menyelamatkan flora langka dari ambang kepunahan, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi perekonomian warga sekitar.
Kawasan Dukuh Gumuk kini berpotensi besar dikembangkan sebagai ekowisata berbasis edukasi, pusat penjualan anggrek hybrid, hingga penyediaan jasa pemandu lokal. Lebih dari itu, inisiatif ini berhasil membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya merawat keanekaragaman hayati lokal.
Kisah Joko Susanto membuktikan bahwa perubahan besar tidak harus selalu dimulai dari kota besar atau fasilitas mewah. Dari sudut desa di lereng Merapi, ketekunan seorang petani mampu menghijaukan kembali masa depan alam Indonesia.
Oleh : Titik, Arifin