
Di tengah aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, Wartiyem (47) tetap menjalani rutinitas membantu suaminya bekerja di sawah setiap hari. Warga yang dikenal sederhana dan pekerja keras ini kini merasakan manfaat besar dari pemanfaatan lahan pekarangan rumahnya sebagai sumber pangan sekaligus tambahan penghasilan keluarga.
Perjalanan Wartiyem memanfaatkan pekarangan dimulai sejak dirinya bergabung sebagai anggota KUPS Kembang Pilang Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Melalui kegiatan sekolah lapang tanaman pangan, Wartiyem mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai budidaya tanaman sayuran. Mulai dari teknik penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil panen secara optimal.
Ilmu yang diperoleh dari mengikuti sekolah lapang tersebut tidak berhenti sebagai teori semata. Wartiyem langsung menerapkannya di lahan pekarangan rumahnya sendiri seluas 40 m². Dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum tergarap maksimal, ia mulai menanam berbagai jenis sayuran seperti sawi, kangkung, terong, buncis, tomat, dan cabai rawit.
Ketelatenan Wartiyem dalam merawat tanaman membuahkan hasil yang cukup baik. Sayuran yang dipanen tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari dan peningkatan gizi keluarga saja, tetapi juga dijual kepada pedagang sayur, pedagang mie, hingga pedagang seblak di sekitar desa.
Menurut Wartiyem, keberadaan kebun pekarangan sangat membantu ekonomi keluarga. Selain mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga, hasil penjualan panen juga mampu menambah pendapatan keluarga.
“Dulu pekarangan saya hanya lahan kosong, sekarang bisa menghasilkan sayur untuk makan sehari-hari dan sebagian bisa dijual, lumayan untuk tambahan penghasilan” ungkap Wartiyem.
Di era yang serba mahal dan sulitnya ekonomi, apalagi di desa yang aksesnya jauh dari kota besar, upaya ini menjadi aktivitas mahal demi keberlangsungan hidup dan pemenuhan gizi keluarga. Dua tahun terakhir ini LPTP bersama KEHATI saling bahu-membahu melalui program pelestarian hutan sebagai sumber penghidupan, mengajak masyarakat untuk terus menyadari bahwa melestarikan alam sekitar akan membawa dampak positif bagi perekonomian.
“Walaupun katanya, rupiah lagi melemah, tapi saya salut dengan bu Wartiyem dan keluarga tidak hilang arah, biarpun tidak pakai dolar juga” ujar Niken Koordinator Program LPTP Banyurip Sragen.
Disisi lain, Wartiyem juga tidak tinggal diam. Ia terus berupaya melalui ilmu yang didapat dari Sekolah Lapang bersama LPTP-KEHATI, untuk disebarluaskan kepada ibu-ibu di Desa Banyurip. Terbukti Wartiyem pernah memfasilitasi kegiatan Sekolah Lapang Tanaman Pangan di KUPS Kembang Pilang.
Kisah Wartiyem menjadi contoh nyata bahwa pemanfaatan lahan pekarangan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga. Melalui semangat belajar dan kemauan untuk mencoba, lahan kecil di sekitar rumah mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi keluarga. Dan bukan tidak mungkin, perempuan yang hidup di desa bisa terus berdaya dan berdampak.
Oleh : Niken Prihartari