
Sragen, 22 April 2026 – Peringatan Hari Bumi di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, tahun ini diwarnai dengan aksi nyata masyarakat melalui penyelenggaraan Festival Wana Lestari. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen warga dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memperkuat sumber penghidupan berkelanjutan di kawasan perhutanan sosial.
Bertempat di Balai Desa Banyurip, festival ini menghadirkan berbagai praktik baik pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Program perhutanan sosial yang dijalankan membuka ruang bagi masyarakat untuk mengelola sumber daya hutan secara bijaksana, dengan tetap menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Sejumlah inisiatif lokal ditampilkan dalam festival ini, mulai dari pemanfaatan pekarangan melalui Sekolah Lapang Tanaman Pangan Berkelanjutan, pengembangan demplot perhutanan sosial, hingga pengelolaan kebun pembibitan untuk rehabilitasi lahan dan peningkatan tutupan vegetasi. Upaya-upaya tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem desa.
Ketua Badan Pengurus LPTP, Sumino, SE dalam sambutannya menyampaikan bahwa transformasi Desa Banyurip berangkat dari kondisi desa miskin ekstrem pada tahun 2019. “Berangkat dari kebutuhan dasar, seperti akses air yang saat itu mencapai ratusan juta rupiah per tahun, masyarakat mulai berbenah melalui berbagai inovasi, seperti pembangunan sumur hybrid, penanaman alpukat, optimalisasi pekarangan, hingga pengembangan komoditas seperti cabe jawa dan sacha inchi,” ujarnya. Kini, berbagai upaya tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap perbaikan lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie menambahkan bahwa program yang telah berjalan selama tiga tahun ini menunjukkan pentingnya kolaborasi multipihak. “Sinergi antara masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, sektor swasta, hingga komunitas seperti LMDH dan KUPS menjadi kunci dalam mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Camat Jenar David Supriyadi turut menyerahkan penghargaan kepada 13 individu dan kelompok yang berkontribusi dalam pelestarian hutan di Kabupaten Sragen, mulai dari masyarakat, pelajar, komunitas, hingga institusi pemerintah dan swasta.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan talkshow bertema “Pelestarian Hutan sebagai Sumber Penghidupan Masyarakat Berkelanjutan” yang menghadirkan perwakilan kelompok tani hutan, kelompok usaha perhutanan sosial, serta pengelola lahan demplot. Diskusi ini mengangkat berbagai perspektif, mulai dari peran perempuan dalam menjaga hutan hingga strategi mengembangkan sumber penghidupan berbasis hutan secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan diskusi yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.
Menutup kegiatan, Sumino menegaskan bahwa Festival Wana Lestari menjadi titik awal untuk memperluas kolaborasi. “Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat jejaring dan mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat sesuai peran masing-masing dalam menjaga kelestarian hutan,” ujarnya.
Melalui Festival Wana Lestari, masyarakat Desa Banyurip menunjukkan bahwa aksi lokal dapat menjadi investasi besar bagi masa depan lingkungan. Kolaborasi yang terbangun diharapkan terus berlanjut guna memastikan hutan tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Oleh : Niken P