LPTP

Tingkatkan Pengetahuan Petani dalam Budidaya Padi Alami

Tingkatkan Pengetahuan Petani dalam Budidaya Padi Alami

Sragen, 24 Juni 2026 — Upaya peningkatan kapasitas petani dalam budidaya padi terus dilakukan melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) Kebudayaan Padi Ngudi Ilmu di Desa Manyarejo. Selama tahun 2025, kelompok ini melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran lapangan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam budidaya padi secara lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.

Dalam kegiatan sekolah lapang tersebut, peserta melakukan pengamatan langsung terhadap pertumbuhan tanaman padi varietas 32 dengan beberapa perlakuan pola tanam berbeda, yaitu jajar legowo 2:1, jajar legowo 4:1, dan tegel 2:2. Melalui metode pengamatan ini, peserta dapat membandingkan pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan, kesehatan tanaman, serta potensi hasil panen.

Selain fokus pada budidaya tanaman padi konsumsi, kegiatan sekolah lapang juga dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai pembenihan padi varietas padi merah. Materi pembenihan ini menjadi bagian penting dalam upaya mendorong kemandirian petani untuk menghasilkan benih berkualitas secara mandiri.

Proses pembelajaran dilakukan baik di dalam maupun di luar ruangan. Kegiatan di dalam ruangan digunakan untuk diskusi, refleksi, dan penguatan materi, sementara kegiatan lapangan berfokus pada observasi langsung terhadap tanaman. Pendekatan belajar yang menggabungkan teori dan praktik ini terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta.

Budidaya pada lahan belajar dilakukan dengan pendekatan pertanian alami, di mana pupuk dan bahan pengendali hama dibuat dari bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan petani. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis yang berpotensi menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang, sekaligus menjaga kualitas hasil panen agar lebih sehat dan minim residu bahan kimia.

Melalui lahan belajar yang digunakan sebagai media pengamatan, peserta memperoleh banyak pengetahuan baru tentang teknik budidaya yang lebih tepat. Cara belajar melalui observasi dan diskusi bersama ini perlahan mengubah pola budidaya petani yang sebelumnya lebih banyak didasarkan pada kebiasaan turun-temurun tanpa proses evaluasi teknis yang mendalam.

Sementara itu, proses pembelajaran terkait produksi benih dilakukan di lahan yang berbeda agar peserta dapat memahami secara khusus tahapan produksi benih, mulai dari seleksi tanaman hingga penanganan pascapanen benih.

Berbekal pengalaman belajar selama satu musim tanam, anggota SL Ngudi Ilmu sepakat untuk melanjutkan kegiatan sekolah lapang pada musim berikutnya di tahun 2026. Keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi bersama yang menunjukkan bahwa sekolah lapang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas petani.

Pada musim tanam berikutnya, sekolah lapang direncanakan akan memperdalam materi budidaya, mencakup aspek teknis penanaman, perlakuan tanaman, pembuatan pupuk dan obat alami, hingga teknik penyediaan benih secara mandiri.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, dua orang peserta secara sukarela menyediakan lahannya untuk dijadikan lahan belajar pengamatan Sekolah Lapang Tanaman Padi tahun 2026. Hal ini menunjukkan tumbuhnya semangat kolaborasi dan kesadaran bersama bahwa peningkatan pengetahuan petani merupakan kunci penting dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Lapang Ngudi Ilmu tidak hanya menjadi ruang belajar bagi petani, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun kemandirian, memperkuat budaya belajar bersama, serta mendorong lahirnya praktik pertanian yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan di tingkat desa.

Oleh: Zamzaini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top