LPTP

Sekolah Lapang untuk Perkuat Budidaya Lele

Sekolah Lapang untuk Perkuat Budidaya Lele

Sragen – Usaha budidaya perikanan di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, kini menjadi salah satu sektor penyangga ekonomi masyarakat, terutama ketika sektor mata pencaharian utama mengalami penurunan akibat berbagai faktor. Melalui usaha budidaya ikan, khususnya lele, masyarakat memperoleh alternatif sumber pendapatan yang mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Potensi tersebut menjadi salah satu hasil kajian yang dipaparkan dalam kegiatan Sosialisasi Program Perikanan yang diselenggarakan di Balai Desa Manyarejo pada Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan masyarakat, kelompok pembudidaya ikan, pemerintah desa, serta tim pendamping dari LPTP.

Dalam paparannya, Bejo Sibet selaku fasilitator LPTP menyampaikan bahwa usaha budidaya ikan di Desa Manyarejo memiliki peluang yang masih sangat besar untuk dikembangkan. Saat ini, dari seluruh anggota kelompok pembudidaya ikan, baru sekitar 14 orang yang menjalankan usaha secara aktif dan intensif, sementara permintaan pasar terhadap ikan konsumsi masih cukup terbuka.

“Potensi yang dimiliki kelompok masih sangat besar. Dengan penguatan kapasitas anggota dan perbaikan manajemen usaha, budidaya perikanan dapat berkembang menjadi usaha utama masyarakat, bukan hanya sebagai penyangga ekonomi,” jelas Bejo.

Kelompok pembudidaya ikan di Dusun Mundu dan Mundurejo sendiri telah berdiri sejak tahun 2012 sebagai wadah belajar, berbagi pengalaman, serta membangun kerja sama antaranggota. Untuk memperkuat kelembagaan, pada tahun 2023 kelompok resmi memperoleh badan hukum sehingga memiliki legalitas yang lebih kuat dalam menjalin kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, maupun berbagai lembaga lainnya.

Semangat kebersamaan kelompok tercermin dalam slogan “Sak wadah ojo ngasi bubrah”, yang mengandung pesan agar seluruh anggota tetap menjaga persatuan dan kekompakan dalam mengembangkan usaha bersama. Ke depan, kelompok menargetkan usaha budidaya perikanan mampu berkembang menjadi kegiatan ekonomi utama yang dikelola secara profesional dengan sistem manajemen yang lebih baik.

Dari sisi sarana produksi, kelompok memiliki modal yang cukup besar berupa 77 kolam pembesaran dengan ukuran yang bervariasi dan tersebar di wilayah Mundu dan Mundurejo. Potensi tersebut dinilai mampu meningkatkan kapasitas produksi apabila didukung oleh pengelolaan teknis, manajemen usaha, dan akses pemasaran yang semakin baik.

Meski demikian, hasil kajian juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi para pembudidaya. Dari aspek lingkungan, rembesan air kolam masih berpotensi mencemari lahan milik warga sekitar sehingga diperlukan sistem pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, penyediaan benih masih bergantung pada daerah lain seperti Cilacap, Wonosobo, hingga Banten. Kondisi tersebut menyebabkan biaya transportasi meningkat dan kualitas benih berisiko menurun akibat jarak pengiriman yang cukup jauh.

Faktor iklim juga menjadi tantangan tersendiri. Upaya pengembangan komoditas gurame belum memberikan hasil optimal karena suhu air di lokasi budidaya belum dapat dikendalikan sesuai kebutuhan pertumbuhan ikan.

Permasalahan lainnya adalah pengelolaan kualitas air, tingginya biaya operasional air, serta penebaran benih yang belum mempertimbangkan kalender musim dan kepadatan ideal kolam. Kondisi tersebut beberapa kali menyebabkan kematian benih dalam jumlah besar sehingga meningkatkan risiko kerugian.

Di sisi manajemen usaha, pembudidaya juga masih menghadapi kesulitan dalam memantau siklus produksi dan perkembangan harga pasar. Tidak jarang hasil panen dijual secara mendadak karena kebutuhan ekonomi keluarga yang mendesak, seperti biaya pendidikan anak atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Akibatnya, posisi tawar pembudidaya menjadi lemah karena hasil panen dipasarkan pada saat harga belum tentu menguntungkan.

Sebagai tindak lanjut dari hasil kajian tersebut, LPTP bersama masyarakat merancang program Sekolah Lapang Perikanan sebagai media belajar bersama untuk meningkatkan kapasitas kelompok. Salah satu inovasi yang mulai dikembangkan adalah pemanfaatan slurry biogas sebagai bahan alternatif pembuatan pakan pelet mandiri. Inovasi ini diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus memanfaatkan limbah peternakan secara lebih produktif melalui integrasi sektor peternakan dan perikanan yang telah dikembangkan sebelumnya.

Selain itu, sekolah lapang juga akan memperkuat kemampuan anggota dalam mengenali, mencegah, serta mengendalikan tujuh jenis hama dan penyakit utama pada budidaya ikan. Melalui proses belajar yang berkelanjutan, diharapkan produktivitas dan efisiensi usaha dapat meningkat, risiko budidaya semakin berkurang, serta usaha perikanan di Desa Manyarejo mampu berkembang menjadi sumber penghidupan utama yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Oleh Bejo Sibet dan Eko

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top