LPTP

Memperdalam Pembuatan Pestisida Nabati dari Bahan Lokal

Memperdalam Pembuatan Pestisida Nabati dari Bahan Lokal

Sragen — 24 September 2026. “Aroma campuran bahan pestisida nabati begitu menggoda selera makan” kata seorang peserta Sekolah Lapang (SL) Padi Ngudi Ilmu, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, saat mendalami pembuatan dan fungsi pestisida nabati (pesnab) dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses belajar petani untuk mengenali potensi bahan lokal sebagai salah satu alternatif dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman. Peserta tidak hanya mempraktikkan cara pembuatan, tetapi juga mendiskusikan fungsi masing-masing bahan serta pengalaman penggunaan pesnab di lahan.

Memanfaatkan Bahan yang Ada di Sekitar
Dalam praktik pembuatan pesnab, peserta menggunakan beberapa bahan utama, yaitu cabai, daun pepaya, bawang putih, mikroorganisme, dan tetes tebu.
Cabai dimanfaatkan karena memiliki rasa pedas yang dapat memberikan efek tidak disukai oleh serangga ketika mengenai tubuhnya. Sementara itu, daun pepaya memiliki rasa pahit yang dapat mengganggu ketertarikan serangga terhadap tanaman. Bahan dengan karakter pahit tersebut juga dapat digantikan dengan bahan lokal lain, seperti brotowali, biji mahoni, daun mimba, maupun tanaman lain yang memiliki rasa pahit.
Bawang putih digunakan karena memiliki aroma khas yang menusuk dan tidak disukai oleh sebagian serangga sehingga dapat membantu menghindarkan serangga dari tanaman. Adapun mikroorganisme ditambahkan untuk membantu proses penguraian bahan, sedangkan tetes tebu berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme.
Dalam praktiknya, cabai, daun pepaya, dan bawang putih terlebih dahulu ditumbuk hingga halus. Penghalusan dilakukan untuk memperluas permukaan bahan sehingga proses penguraian dan keluarnya senyawa khas dari bahan dapat berlangsung lebih cepat. Bahan kemudian dicampurkan dan direndam dalam air bersama bahan pendukung lainnya.

Belajar dari Bahan Lokal
Pembahasan pestisida nabati tidak berhenti pada proses pembuatan. Peserta juga diajak mengidentifikasi berbagai bahan yang tersedia di sekitar rumah dan lahan pertanian yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pesnab.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong petani untuk lebih mengenali sumber daya yang tersedia di lingkungannya. Dengan demikian, pengendalian organisme pengganggu tanaman tidak selalu bergantung pada produk yang harus dibeli dari luar.
Inti dari pembelajaran ini adalah peserta mengetahui fungsi bahan dan mampu melihat potensi yang ada di sekitar. Bahan yang selama ini dianggap sederhana ternyata dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan tanaman.

Pengalaman Petani Menjadi Bahan Evaluasi
Pengalaman peserta dalam menggunakan pestisida nabati pada pertemuan sebelumnya juga menjadi bahan diskusi. Dari hasil aplikasi yang telah dilakukan, peserta menyampaikan bahwa penggunaan pesnab cukup membantu dalam menghadapi serangan serangga pengganggu tanaman.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi ruang belajar bersama. Petani membandingkan kondisi tanaman sebelum dan sesudah aplikasi, mendiskusikan perubahan yang terlihat, serta mengevaluasi cara pembuatan dan penggunaannya.
Selain pengalaman pengendalian hama, peserta melihat adanya manfaat lain, yaitu berkurangnya ketergantungan terhadap pestisida buatan industri secara bertahap. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar juga membuka peluang bagi petani untuk menekan pengeluaran sekaligus meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan tanaman.

Membangun Kemandirian Petani
Pembelajaran pestisida nabati di SL Padi Ngudi Ilmu menjadi bagian dari upaya membangun pengetahuan dan kemandirian petani melalui proses belajar yang bersumber dari pengalaman mereka sendiri. Bahan lokal, pengalaman aplikasi, serta hasil pengamatan di lahan menjadi dasar untuk terus memperbaiki praktik budidaya.
Melalui sekolah lapang, petani tidak hanya belajar membuat pestisida nabati, tetapi juga belajar mengamati, mencoba, mengevaluasi, dan mengambil pembelajaran dari kondisi lahannya sendiri. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sesuai dengan potensi bahan lokal dan kebutuhan petani.

Oleh Zamzaini

*key

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top