
Boyolali – 13 Oktober 2026.
Bertempat di rumah Kepala Desa Sangup Kec. Tamansari Boyolali, kelompok tani dari Desa Sangup, Desa Pagerjurang dan Desa Sukorejo kembali melakukan Sekolah Lapang (SL) Konservasi. Pertemuan kedua ini mengangkat topik “Fungsi Agroforestri dalam Konservasi Lahan dan Air”.
Dalam sesi pembelajaran, LPTP mengajak peserta untuk memahami proses terjadinya erosi dan longsor, terutama pada lahan terbuka dan lahan yang hanya ditanami satu jenis tanaman. Kondisi tanah yang tidak terlindungi vegetasi rentan mengalami pengikisan akibat aliran air hujan. Melalui penerapan agroforestri, beragam jenis tanaman dengan sistem perakaran berbeda dapat membantu mengikat tanah, sementara tajuk tanaman yang berlapis berfungsi mengurangi energi tumbukan air hujan sebelum mencapai permukaan tanah.
Pembahasan juga menyoroti peran agroforestri dalam menjaga ketersediaan air. Serasah dan bahan organik yang berasal dari daun serta bagian tanaman yang gugur dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menyerap air, dan menjaga kelembapan. Dengan kondisi tanah yang lebih baik, air hujan memiliki kesempatan lebih besar untuk meresap ke dalam tanah dan mendukung keberlangsungan sumber mata air.
Selain itu, peserta mempelajari hubungan antara kondisi lahan di wilayah hulu dengan ketersediaan air di wilayah hilir. Kawasan tangkapan air yang terjaga vegetasinya berperan penting dalam mengatur aliran air, mengurangi limpasan permukaan, dan mendukung pengisian cadangan air tanah. Oleh karena itu, upaya konservasi tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan daerah aliran sungai (sub DAS).
Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai persoalan lingkungan yang dihadapi peserta di wilayah masing-masing. Permasalahan seperti erosi pada lahan miring, kekeringan, dan penurunan debit mata air menjadi bahan pembahasan bersama. Peserta juga didorong untuk mengidentifikasi potensi penerapan agroforestri, baik di lahan pertanian berbukit maupun di sekitar sumber mata air, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setempat.
Diskusi juga berkembang sampai pada masalah serangan hama yang berasal dari satwa liar. Dampak dari berkurangnya sumber air dan tanaman buah dirasakan masyarakat setempat, yaitu masuknya monyet ekor panjang yang merusak tanaman penduduk. Lebih dari itu, gerombolan monyet ini bahkan sampai masuk pada sekitar rumah dan diantaranya sampai menjarah bahan pangan penduduk yang biasa ditaruh dibagian belakang rumah. Berbagai cara sudah diatasi namun belum menunjukkan hasil yang maksimal. Masyarakat masih terus mencari solusi yang tepat dimana dengan tidak membunuh atau merusak populasi mereka, tetapi juga serangan monyet tidak lagi terjadi.
Diskusi tersebut menjadi langkah awal untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata petani dan masyarakat pengelola kawasan hutan. Penerapan agroforestri diharapkan dapat dikembangkan melalui kombinasi tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, pemeliharaan vegetasi yang sudah ada, serta pengelolaan tanah dan air secara berkelanjutan.
Melalui Sekolah Lapang Agroforestri ini, peserta diharapkan semakin memahami bahwa menjaga lahan dan air merupakan bagian penting dari keberlanjutan usaha pertanian dan penghidupan masyarakat. Agroforestri bukan sekadar pola tanam campuran, melainkan pendekatan pengelolaan sumber daya alam yang dapat mempertemukan kepentingan ekonomi masyarakat dengan upaya konservasi lingkungan.
Menjaga tanah berarti menjaga air, dan menjaga air berarti menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat. Dengan pengetahuan dan kerja sama antara kelompok tani yang berada di wilayah yang sama khususnya lereng gunung Merapi, diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan kawasan yang lebih lestari dan produktif.
Oleh Aziz Nur Arifin