LPTP

Penataan Lahan Agroforestri

Penataan Lahan Agroforestri

Boyolali, 27 Oktober 2026 — Sekolah Lapang (SL) Agroforestri kembali dilaksanakan LPTP di Balai Desa Pagerjurang. Kegiatan ini mengangkat topik “Penataan Lahan Agroforestri” yang diikuti oleh peserta dari kelompok tani Desa Sangup, Pagerjurang, dan Sukorejo.

Pertemuan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengenali berbagai jenis tanaman yang berpotensi dikembangkan melalui sistem agroforestri, yaitu perpaduan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dan/atau komponen peternakan dalam satu kesatuan pengelolaan lahan.

SL tersebut membahas empat hal, yaitu kategori tanaman dalam agroforestri, prinsip dasar kompatibilitas atau kesesuaian antarjenis tanaman, pengenalan tanaman lokal yang berpotensi dikembangkan, serta latihan sederhana untuk mengidentifikasi kombinasi tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan.

Peserta diajak memahami bahwa pemilihan jenis tanaman tidak hanya mempertimbangkan nilai ekonomi, tetapi juga kesesuaian dengan kondisi tanah, ketersediaan air, kebutuhan cahaya matahari, pola perakaran, serta karakter pertumbuhan masing-masing tanaman. Kombinasi tanaman yang tepat diharapkan dapat mengurangi persaingan dalam memperoleh unsur hara, air, dan cahaya, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.

Pengenalan tanaman lokal menjadi bagian penting dalam pembelajaran ini. Tanaman yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat. Pemilihan jenis tanaman juga perlu mempertimbangkan manfaat ekologis, potensi hasil, kemudahan pemeliharaan, serta peluang pemasaran hasil panen.

Setelah pembelajaran di balai desa, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan melalui kunjungan langsung ke lahan yang direncanakan untuk ditanami menggunakan sistem agroforestri di Desa Pagerjurang. Dalam praktik ini, peserta berkesempatan mengamati kondisi lahan secara langsung sebagai dasar untuk menentukan jenis dan kombinasi tanaman yang sesuai.

Pengamatan lapangan menjadi bagian penting karena perencanaan agroforestri perlu disesuaikan dengan kondisi nyata, seperti kemiringan lahan, tingkat kesuburan tanah, ketersediaan air, serta jenis vegetasi yang telah tumbuh. Dengan demikian, rancangan penanaman diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga mendukung konservasi tanah dan air.

Melalui pertemuan keempat ini, peserta Sekolah Lapang Agroforestri diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tentang pemilihan dan kombinasi tanaman dalam pengelolaan lahan pertanian. Pembelajaran bersama antarkelompok tani dari Desa Sangup, Pagerjurang, dan Sukorejo juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan mengembangkan praktik agroforestri yang sesuai dengan potensi wilayah.

Sekolah Lapang Agroforestri diharapkan dapat mendorong petani mengelola lahan secara lebih beragam, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat upaya konservasi sumber daya alam di kawasan perdesaan.

Oleh Aziz NA dan Titik SR

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top