LPTP

‎Pembuatan Nitrobakter untuk Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

‎Pembuatan Nitrobakter untuk Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Sragen, 23 Juli 2026 – Peserta Sekolah Lapang (SL) Kebudayaan Padi Ngudi Ilmu kembali mengikuti rangkaian pembelajaran yang berfokus pada penerapan pertanian ramah lingkungan. Bertempat di Rumah Pupuk, kegiatan kali ini difasilitasi oleh Arifin, narasumber LPTP yang menyampaikan materi sekaligus praktik pembuatan Nitrobakter, salah satu agens hayati yang berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara nitrogen bagi tanaman.
‎Nitrobakter bukanlah pupuk, melainkan mikroorganisme hidup yang membantu proses penyediaan unsur nitrogen di dalam tanah. Nitrogen merupakan unsur hara utama yang sangat dibutuhkan tanaman, terutama pada fase pertumbuhan vegetatif.
‎Di udara kandungan nitrogen sangat melimpah, tetapi di dalam tanah jumlahnya terbatas. Melalui bantuan Nitrobakter, nitrogen dapat diubah menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tanaman. Terdapat dua kelompok bakteri yang berperan dalam siklus nitrogen, yaitu Nitrosomonas yang mengubah amonia menjadi nitrit, serta Nitrobacter yang melanjutkan proses tersebut menjadi nitrat yang lebih mudah diserap oleh tanaman. Kedua bakteri tersebut sebenarnya telah banyak ditemukan di alam, seperti di tanah, sungai, air limbah, maupun laut, namun populasinya relatif sedikit sehingga perlu diperbanyak melalui proses budidaya.
‎Selain berfungsi menyediakan unsur nitrogen, Nitrobakter juga berperan dalam menguraikan sisa bahan organik, membantu memperbaiki struktur tanah secara bertahap, serta dapat dimanfaatkan pada sektor pertanian maupun perikanan.
‎Peserta terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara kerja, media hidup, hingga peluang pengembangan Nitrobakter sebagai produk yang dapat diproduksi secara mandiri oleh kelompok tani. Berbagai pengalaman penggunaan bakteri pada peternakan dan budidaya ikan juga turut menjadi bahan diskusi yang memperkaya pemahaman peserta.
‎Dalam SL ini dilakukan praktik secara langsung proses pembuatan Nitrobakter, dengan bahan 4 liter biang Nitrobakter, 4 kilogram urea, 4 liter molase (tetes tebu), dan 100 liter air bersih. Seluruh bahan dicampurkan di dalam tong, kemudian diaduk hingga merata sebelum biang bakteri dimasukkan. Wadah ditutup menggunakan kain hitam dan ditempatkan di lokasi yang teduh selama proses fermentasi.
‎Nitrobakter termasuk bakteri aerob yang membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar berkembang dengan baik, yaitu pH antara 7,3–7,5, kandungan oksigen terlarut (DO) minimal 2 mg/L, suhu 25–30°C, serta kondisi yang gelap. Selama masa fermentasi, larutan diaduk setiap hari selama satu minggu pertama, kemudian dua hari sekali hingga umur fermentasi mencapai sekitar 14 hari.
‎Setelah proses perbanyakan selesai, Nitrobakter siap diaplikasikan ke lahan dengan perbandingan 1 bagian Nitrobakter dan 10 bagian air. Waktu aplikasi yang dianjurkan adalah sebelum pukul 06.00 pagi atau setelah pukul 17.00 sore agar bakteri tetap hidup dan bekerja secara optimal. Aplikasi dapat dilakukan melalui penyemprotan maupun pengocoran ke lahan.
‎Penggunaan Nitrobakter tidak serta-merta menggantikan pupuk kimia secara penuh.
‎”Yang paling penting adalah memperbaiki kondisi tanah terlebih dahulu. Kalau tanah sehat, tanaman juga akan tumbuh lebih baik,” kata Arifin dalam penjelasanya.
‎Dalam kesempatan tersebut koordinator kegiatan, Zamzaini, menambahkan bahwa keberhasilan teknologi ini perlu dibuktikan melalui pencatatan di lahan masing-masing peserta. Oleh karena itu setiap peserta diminta mendokumentasikan luas lahan, jumlah pupuk urea yang digunakan, volume Nitrobakter yang diaplikasikan, serta jenis dan dosis pupuk lain yang diberikan. Data tersebut nantinya akan dibandingkan dengan hasil panen musim sebelumnya untuk mengetahui dampak penggunaan Nitrobakter terhadap pertumbuhan tanaman, kebutuhan pupuk kimia, serta kondisi tanah.
‎Sebagai tindak lanjut, peserta bersama-sama menyusun rencana tindak lanjut (RTL).
‎Melalui kegiatan Sekolah Lapang Padi ini, diharapkan para petani semakin memahami pemanfaatan agens hayati sebagai bagian dari budidaya padi yang lebih efisien, ramah lingkungan, serta mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia tanpa mengurangi produktivitas lahan.

‎Oleh Zamzaini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top