LPTP

Merencanakan Kolam Ikan Sistem Bioflok Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Merencanakan Kolam Ikan Sistem Bioflok Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Sragen, 13 Agustus 2026 — Kelompok Tani Ternak/Sekolah Lapang (SL) Perikanan Mina Marga Rahayu kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran bersama pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.03 WIB hingga selesai tersebut bertempat di rumah Rosyid, salah satu anggota kelompok SL Perikanan.

Kegiatan diikuti oleh 41 peserta, yang terdiri atas anggota SL Perikanan Mina Marga Rahayu, Tim Program Kebudayaan Terpadu Sangiran (PKTS), mahasiswa magang, serta mahasiswa KKN. Pertemuan kali ini berfokus pada evaluasi hasil pre-test sekaligus pendalaman materi mengenai “Kolam Ikan Sistem Bioflok Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.”

Kegiatan diawali dengan penyampaian hasil pre-test, yang menunjukkan bahwa tingkat pemahaman peserta terhadap materi budidaya perikanan mencapai 73%, sementara sekitar 21% materi masih membutuhkan pendalaman.

Hasil tersebut kemudian digunakan untuk memetakan skala prioritas pembelajaran. Pemetaan dilakukan agar materi yang masih belum dikuasai peserta dapat menjadi perhatian dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.

Salah satu materi yang dinilai masih perlu diperkuat adalah pemahaman mengenai pH air dan teknik pengujiannya. Pemahaman terhadap pH menjadi penting karena kondisi kualitas air sangat berpengaruh terhadap kesehatan ikan maupun keberlangsungan sistem bioflok.

Pada saat penyampaian materi utama “Kolam Bioflok Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan,” peserta diajak memahami konsep dasar sistem bioflok, mulai dari prinsip kerja, pengelolaan kolam, persiapan air, hingga peluang pengembangan usaha.

Salah satu keunggulan sistem bioflok adalah kemampuan menampung ikan dengan kepadatan tebar yang lebih tinggi dibandingkan kolam tradisional. Dengan pengelolaan yang tepat, sistem ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ruang dan air.

Perbedaan penggunaan air menjadi salah satu pembahasan menarik. Pada sistem kolam tradisional, pergantian air umumnya dilakukan secara lebih rutin. Sementara dalam sistem bioflok, air dipertahankan agar mikroorganisme pembentuk flok dapat bekerja secara optimal. Pembuangan air dilakukan secara terbatas, terutama untuk mengeluarkan endapan atau kotoran yang terakumulasi.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan treatment kolam. Sebelum ikan ditebar, air dan kolam perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Proses persiapan dan treatment membutuhkan waktu sekitar 4–7 hari atau sesuai kondisi kolam dan parameter kualitas air.

Pembelajaran tidak hanya membahas teknik budidaya ikan. Peserta juga diajak melihat potensi pengembangan sistem bioflok secara lebih luas, termasuk pengelolaan limbah dan diversifikasi usaha.

Beberapa peluang yang dibahas antara lain budidaya cacing sutra dan pembibitan azolla yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari sistem usaha yang saling mendukung. Dengan demikian, kegiatan perikanan tidak berdiri sendiri, tetapi dapat diintegrasikan dengan kegiatan pertanian maupun peternakan.

Peserta juga dikenalkan dengan teknik menghitung volume air kolam secara tepat. Kemampuan melakukan kalkulasi menjadi penting agar penggunaan bahan, perlakuan air, kapasitas kolam, serta kepadatan ikan dapat ditentukan berdasarkan ukuran kolam dan kebutuhan budidaya.

Hal menarik lainnya adalah munculnya perspektif bahwa pengetahuan dan keterampilan budidaya juga memiliki nilai ekonomi. Artinya, anggota kelompok tidak hanya dapat memperoleh pendapatan dari penjualan ikan, tetapi ke depan juga berpeluang mengembangkan jasa edukasi, berbagi pengetahuan, maupun kegiatan pembelajaran mengenai budidaya bioflok.

Saat sesi tanya jawab beberapa peserta aktif melontarkan pertanyaan dan pendapat terkait materi yang paling banyak belum dikuasai berdasarkan hasil pre-test. Dijelaskan bahwa salah satu materi yang masih perlu diperdalam adalah pengujian dan pemahaman mengenai pH air. Materi lain yang cukup padat dibahas yaitu mengenai asal bakteri dalam sistem bioflok, penggunaan aerator berdaya 200 watt yang harus bekerja selama 24 jam, kaitanya dengan kebutuhan listrik dengan dibandingkan sistem kolam tradisional.

Meskipun membutuhkan listrik untuk aerasi secara terus-menerus, sistem bioflok menawarkan keuntungan melalui kepadatan tebar yang lebih tinggi dan penggunaan air yang lebih hemat. Namun, penghitungan usaha tetap perlu dilakukan berdasarkan biaya listrik, pakan, bibit, kapasitas kolam, tingkat kelangsungan hidup ikan, dan harga jual.

Peserta kemudian mendiskusikan perbandingan hasil dan keuntungan antara kolam tradisional dan bioflok pada periode pemeliharaan yang sama. Diskusi diarahkan pada penyusunan estimasi hasil berdasarkan perbedaan padat tebar dan biaya operasional masing-masing sistem.

Pertemuan ditutup dengan penyampaian Rencana Tindak Lanjut (RTL) dimana Kelompok akan mulai memasuki tahap persiapan pembangunan infrastruktur bioflok.

Kegiatan diawali dengan kerja bakti pembersihan lokasi pada Minggu, 16 Agustus 2026, yang melibatkan seluruh anggota SL. Selanjutnya, pembangunan infrastruktur bioflok dijadwalkan pada 17–22 Agustus 2026. Tahapan berikutnya meliputi perakitan dan pemasangan instalasi kolam, pengisian serta treatment air selama minimal 4–7 hari, pengadaan alat ukur pH air dan jaring pengaman hama, hingga pengadaan bibit dan pakan.

Untuk tahap awal, kelompok merencanakan pengadaan 1.000 ekor bibit gurame dengan pakan yang terdiri atas PF 500, PF 800, dan PF 1000. Setelah seluruh persiapan selesai dan kondisi kolam dinyatakan siap, bibit akan ditebar bersama oleh anggota SL.

Melalui rangkaian pembelajaran dan praktik tersebut, Sekolah Lapang Perikanan Mina Marga Rahayu diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk membangun budidaya perikanan yang efisien, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi bagi anggota kelompok.

Oleh Bejo Sibet

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top