
Sragen, 9 September 2026 — Kelompok Sekolah Lapang Perikanan Mina Margo Rahayu, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, memperdalam pembelajaran budidaya ikan gurami dengan membahas materi utama anatomi, karakteristik, hama dan penyakit, serta pemantauan perkembangannya. Kegiatan ini berlangsung pada malam hari mulai pukul 19.30 hingga 22.30 WIB, bertempat di kolam belajar kelompok.
Pertemuan yang difasilitasi Bejo Sibet dan Aziz Nur Arifin dari LPTP ini menjadi bagian dari proses belajar peternak ikan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan budidaya gurami, dengan pendekatan diskusi sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga menghubungkannya dengan kondisi ikan dan kolam yang mereka kelola sehari-hari.
Salah satu materi yang dipelajari adalah anatomi ikan gurami, dimana peserta diajak mengenali bagian-bagian tubuh dan organ ikan serta memahami fungsi masing-masing organ. Pemahaman mengenai anatomi menjadi dasar penting bagi pembudidaya untuk mengenali kondisi ikan, termasuk membedakan karakteristik ikan gurami jantan dan betina.
Selain anatomi, peserta juga mendalami karakteristik hidup ikan gurami, kebutuhan pakan, serta kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan ikan. Faktor kualitas air dan suhu menjadi bagian penting dalam pembahasan karena kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan, nafsu makan, pertumbuhan, dan keberhasilan budidaya ikan.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas sedikit sejarah awal ikan gurami dibudidayakan. Materi ini memberikan gambaran mengenai perjalanan gurami sebagai salah satu jenis ikan yang telah lama dikenal dan dikembangkan sebagai ikan konsumsi. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan peserta mengenai potensi gurami sebagai komoditas budidaya.
Pada materi pengenalan hama dan penyakit ikan gurami, peserta belajar membedakan gangguan yang berasal dari hama dengan penyakit yang menyerang ikan. Hama dapat berasal dari hewan atau makhluk hidup lain yang mengganggu ikan maupun lingkungan kolam. Sementara itu, penyakit dapat berkaitan dengan kondisi kualitas air, gangguan fisik, maupun penyebab lain seperti virus dan jamur.
Melalui pembelajaran tersebut, peternak didorong untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi ikan dan lingkungan kolam. Pengamatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mengetahui sejak dini apabila terdapat ikan yang mengalami perubahan perilaku, penurunan nafsu makan, perubahan bentuk tubuh, atau tanda-tanda gangguan kesehatan lainnya.
Peserta juga mempelajari cara melakukan monitoring perkembangan ikan gurami. Monitoring dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan ikan dari waktu ke waktu, kondisi kesehatan, kebutuhan pakan, serta perkembangan populasi dalam kolam. Data hasil pengamatan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pembudidaya dalam menentukan langkah pemeliharaan berikutnya.
Selain monitoring, pembelajaran diarahkan pada pemilahan ikan gurami untuk bibit dan pembesaran. Pemilahan dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan perkembangan ikan sehingga ikan yang akan digunakan sebagai calon bibit dapat dibedakan dari ikan yang diarahkan untuk pembesaran. Dengan pemilahan yang baik, pengelolaan kolam diharapkan menjadi lebih terarah dan efisien.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 22.30 WIB tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi anggota kelompok. Kolam belajar tidak hanya digunakan sebagai tempat pemeliharaan ikan, tetapi juga menjadi media bagi petani untuk melakukan pengamatan, berdiskusi, mencoba, dan mengevaluasi praktik budidaya secara langsung.
Melalui Sekolah Lapang Perikanan Mina Margo Rahayu, pengetahuan dan pengalaman anggota kelompok terus dikembangkan dari pertemuan ke pertemuan. Harapannya, kemampuan petani dalam mengenali kondisi ikan, mengelola kualitas air, menyediakan pakan, melakukan monitoring, serta menangani hama dan penyakit dapat semakin meningkat sehingga budidaya gurami mampu menjadi salah satu penyangga ekonomi keluarga petani di Desa Manyarejo.
Oleh Bejo Sibet