LPTP

Dorong Pengembangan Pekarangan dan Penguatan Budidaya Sayur Masyarakat

Dorong Pengembangan Pekarangan dan Penguatan Budidaya Sayur Masyarakat

Sragen, 17 September 2026 — Pengembangan kebun sayur di pekarangan masyarakat terus menjadi bagian dari proses belajar bersama Kelompok Sekolah Lapang (SL) Sayur KBD Tunas Bumi Manyar, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Melalui pertemuan pada Kamis (17/9/2026), anggota kelompok melakukan evaluasi pengembangan bibit sayuran, membahas persoalan budidaya di tingkat masyarakat, serta menyusun langkah tindak lanjut untuk memperkuat pengelolaan pekarangan.
Pertemuan tersebut mereview kegiatan dan diskusi perkembangan distribusi bibit sayuran. KBD Tunas Bumi Manyar yang sebelumnya telah mendistribusikan bibit kepada kelompok masyarakat lain sebagai bagian dari upaya memperluas pengembangan lahan sayur di lingkungan rumah.
Hingga saat ini, sebanyak 47 bibit telah didistribusikan kepada Masyarakat dilingkungan RT 03. Distribusi tersebut tidak sekadar dimaksudkan untuk membagikan bibit, tetapi menjadi bagian dari proses pengembangan kebun sayur berbasis pekarangan. Masyarakat yang menerima bibit diharapkan dapat memindahkan, merawat, dan mengembangkan tanaman secara mandiri.

Bibit Dipantau Setelah Dipindahkan ke Polybag
Satu minggu setelah proses pemindahan bibit ke polybag, anggota KBD Tunas Bumi Manyar melakukan monitoring untuk mengetahui perkembangan tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan kondisi tanaman cukup beragam.
Sebagian tanaman dapat tumbuh dengan baik, sementara beberapa lainnya mengalami kematian. Penyebab yang ditemukan antara lain kekeringan, serangan hama dan penyakit, serta gangguan dari hewan lain.
Temuan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dalam SL Sayur. Bagi anggota KBD, tanaman yang mati tidak hanya dilihat sebagai kegagalan, tetapi menjadi bahan belajar untuk mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat dalam mengembangkan tanaman sayur di pekarangan.
Pembahasan mengenai hama dan penyakit menjadi penting karena anggota KBD memiliki tugas untuk meneruskan pengetahuan dan pengalaman tersebut kepada kelompok masyarakat lain yang ikut mengembangkan tanaman sayur di pekarangan.
Dengan demikian, KBD tidak hanya berperan sebagai tempat produksi dan pembelajaran bagi anggotanya, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan bagi masyarakat yang mulai mengembangkan sayuran di lingkungan rumah masing-masing.

Apresiasi untuk Masyarakat yang Mau Mengembangkan Pekarangan
Dalam pertemuan tersebut muncul gagasan untuk memberikan penghargaan atau apresiasi kepada masyarakat yang aktif mengembangkan tanaman sayur di pekarangan. Apresiasi dipandang sebagai salah satu cara untuk mendorong masyarakat agar tidak berhenti setelah menerima bibit.
Kriteria apresiasi kemudian didiskusikan dalam tiga tingkatan.
Rangking 1 diberikan kepada masyarakat yang memiliki inisiatif untuk menambah tanaman, membuat media tanam sendiri, atau melakukan penanaman secara mandiri. Upaya untuk mengembangkan tanaman menjadi indikator adanya kemauan masyarakat untuk bergerak lebih jauh. Bentuk apresiasi dapat berupa tambahan pupuk, bibit, atau kebutuhan budidaya lainnya.
Rangking 2 diberikan kepada masyarakat yang merawat tanaman yang sudah ada hingga mencapai produksi atau panen. Perawatan sampai tanaman menghasilkan menjadi tanda bahwa masyarakat memiliki keseriusan dalam mengelola tanaman yang telah dikembangkan.
Sementara Rangking 3 ditujukan bagi anggota atau penerima bibit yang belum menunjukkan upaya pengembangan maupun perawatan secara aktif dan cenderung membiarkan tanaman yang sudah diberikan.
Pembagian tersebut bukan dimaksudkan untuk memberikan label kepada masyarakat, melainkan menjadi cara sederhana bagi kelompok untuk mengidentifikasi tingkat partisipasi dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Masyarakat yang telah menunjukkan inisiatif dapat didorong untuk mengembangkan lebih banyak tanaman. Sementara masyarakat yang masih pasif dapat menjadi sasaran pendampingan agar mengetahui kembali manfaat dan cara merawat tanaman di pekarangan.

KBD Menyiapkan Nitro Bakteri
Selain evaluasi pengembangan pekarangan, pertemuan SL Sayur memproduksi kembali nitro bakteri sebanyak 100 liter, dengan bahan urea 4 kilogram, tetes/molase 4 liter, dan biang bakteri 4 liter
Pembuatan nitro bakteri menjadi bagian dari upaya kelompok untuk menyediakan bahan pendukung budidaya yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan tanaman sayur. Proses pembuatannya akan dilakukan secara bersama sebagai bagian dari pembelajaran anggota KBD.
Rangkaian kegiatan SL Sayur KBD Tunas Bumi Manyar menunjukkan bahwa pengembangan pekarangan tidak cukup hanya dengan membagikan bibit. Bibit perlu dipastikan dapat tumbuh, masyarakat perlu didampingi ketika menghadapi hama dan penyakit, serta diperlukan upaya untuk membangun kebiasaan merawat dan mengembangkan tanaman.
Dari 47 bibit yang telah didistribusikan, proses belajar kini bergerak pada tahap berikutnya: melihat siapa yang mampu merawat, siapa yang mulai mengembangkan, serta persoalan apa yang muncul di lapangan. Dari proses tersebut, KBD Tunas Bumi Manyar terus membangun pembelajaran bersama agar kebun sayur tidak berhenti sebagai program pembagian bibit, tetapi berkembang menjadi gerakan pemanfaatan pekarangan oleh masyarakat.


Oleh Sri Wahyuning

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top