LPTP

Dahaga Di Tengah Labirin Karst, Meniti Jejak Air Dari Dalam Gua

Dahaga Di Tengah Labirin Karst, Meniti Jejak Air Dari Dalam Gua

Gunungkidul, April 2026 – Kapanewon Panggang di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dikenal sebagai wilayah karst atau pegunungan kapur yang memiliki tantangan geografis yang besar. Minimnya sumber air permukaan membuat kawasan ini rentan mengalami bencana kekeringan parah setiap kali musim kemarau tiba. Dampaknya, masyarakat setempat harus berjuang keras demi mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan domestik harian maupun untuk menopang sektor pertanian.

Melihat urgensi tersebut, Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) hadir membawa solusi inovatif melalui Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih. Proyek ini berfokus pada optimalisasi potensi Sungai Air Bawah Tanah di Gua Wuluh Kumet yang terletak di kedalaman sekitar 60 meter di bawah permukaan tanah Kalurahan Girisuko. Air dari dalam gua tersebut direncanakan akan dipompa naik menuju tangki penampungan utama (Main Reservoir) di elevasi ketinggian sekitar 100 meter dari mulut gua, sebelum akhirnya dialirkan ke rumah-rumah warga memanfaatkan sistem gravitasi.

Selain Goa Wuluh Kumet, terdapat potensi lain yakni Sumber Air Kedung Lumut. Sumber air Kedung Lumut terleatk di sisi Sungai yang ada di Padukuhan Sanglor 2. Debit yang dihasilkan mencapai 4,5 liter/detik dan diproyeksikan untuk mencukupi kebutuhan masayarakat di Padukuhan Sanglor 1, Padukuhan Sanglor 2, dan Padukuhan Pacar 1. Air dari sumber Kedung Lumut rencananya akan dipompakan ke Penampungan Utama dengan jarak 1.172 meter dan elevasi 90 meter. Selanjutnya, dari Penampungan Utama akan didistribusikan ke 3 Padukuhan tersebut dengan sitem gravitasi.

Salah satu keunggulan utama dari rancangan ini adalah penerapan sistem pompa model Hybrid. Sistem ini memadukan pemanfaatan sumber energi surya yang ramah lingkungan sebagai penggerak utama, dengan jaringan listrik PLN sebagai cadangan operasional. Pendekatan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu menjamin keandalan, efisiensi biaya, serta keberlanjutan pasokan air bersih jangka panjang. Melalui sistem ini, sebanyak 525 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 3 padukuhan di Kalurahan Girisuko ditargetkan akan mendapatkan akses air bersih yang layak secara berkelanjutan.

Dalam mengeksekusi proyek strategis ini, LPTP menurunkan tim profesional multisektoral yang berpengalaman. Tim yang terjun ini diperkuat para ahli di bidang Teknik Lingkungan, Hidrogeologi, Perpipaan Hidrolika, Keselamatan Kerja (K3), hingga Ahli Amdal.

Penyusunan rancangan teknis (Detailed Engineering Design / DED) ini tidak hanya mengandalkan perhitungan mekanis, melainkan juga mengintegrasikan pendekatan sosial. Melalui metode partisipatif seperti Focus Group Discussion (FGD) dan Participatory Rural Appraisal (PRA), LPTP memastikan masyarakat setempat terlibat aktif sejak tahap awal perencanaan. Keterlibatan ini krusial agar warga memahami sistem perpipaan dan mampu mengoperasikannya secara mandiri di kemudian hari.

Seluruh proses perencanaan makro ini ditargetkan rampung dalam jangka waktu dua bulan. Melalui sinergi kuat antara keahlian teknis, pemanfaatan energi terbarukan, dan pemberdayaan berbasis komunitas, LPTP berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi konkret demi mewujudkan ketahanan air dan perbaikan kualitas hidup masyarakat pedesaan di Indonesia.

Oleh : Daryanto, Wachid, Ilham, Endrik, Rindra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top