LPTP

Menghitung Biaya Produksi dan Menjaga Padi di Fase Bunting

Menghitung Biaya Produksi dan Menjaga Padi di Fase Bunting

Sragen, 17 September 2026 — Bagi petani, menghitung hasil panen saja tidak cukup untuk mengetahui apakah usaha tani padi memberikan keuntungan. Biaya pengolahan lahan, benih, tanam, pupuk, pengendalian gulma hingga panen perlu dihitung bersama. Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Sekolah Lapang (SL) Pertanian Ngudi Ilmu di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.
Pertemuan sekolah lapang kali ini menggabungkan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam usaha tani, yaitu pengelolaan tanaman di lahan dan pengelolaan biaya produksi. Anggota kelompok melakukan review kepemilikan dan penguasaan lahan, dengan rata-rata lahan yang dikelola sekitar 5.000 meter persegi.
Dari luasan tersebut, petani bersama-sama mencoba memetakan kebutuhan biaya produksi. Beberapa komponen yang dicatat antara lain biaya traktor sekitar Rp1 juta, benih Rp300 ribu, pembersihan gulma Rp300 ribu, biaya tanam Rp1,1 juta, pupuk Rp400 ribu, serta panen menggunakan combine harvester sekitar Rp900 ribu.
Dari komponen tersebut, biaya yang berhasil dihitung dalam diskusi mencapai sekitar Rp4 juta untuk luasan 5.000 meter persegi. Angka tersebut menjadi bahan belajar bersama bahwa setiap tahapan budidaya memiliki biaya yang perlu dicatat, sehingga petani dapat mengetahui kebutuhan modal sekaligus menghitung pendapatan dari hasil panen.

Dari 50 Karung Menjadi Bahan Hitung Usaha Tani
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan menghitung potensi produksi. Dalam contoh yang dibahas, hasil panen mencapai 50 karung, dengan berat sekitar 70 kilogram per karung. Jika dikonversikan, produksi tersebut mencapai sekitar 3.500 kilogram atau 3,5 ton gabah.
Data tersebut kemudian menjadi bahan diskusi untuk menghubungkan antara biaya produksi, jumlah hasil panen dan harga jual. Bagi anggota SL Ngudi Ilmu, pencatatan sederhana semacam ini menjadi bagian dari proses belajar agar keputusan dalam budidaya tidak hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi juga berdasarkan perhitungan usaha tani.

Padi Memasuki Fase Bunting
Selain membicarakan biaya produksi, perhatian anggota kelompok juga diarahkan pada kondisi tanaman di lapangan. Saat pertemuan berlangsung, tanaman padi sebagian besar sedang memasuki fase bunting, yaitu masa penting menjelang pembentukan dan pengisian bulir.
Fase ini menjadi momentum bagi petani untuk kembali melihat perjalanan pertumbuhan tanaman sejak awal. Dalam diskusi, pertumbuhan padi dibagi secara sederhana menjadi tiga tahap perhatian.
Pada fase vegetatif, perhatian utama diarahkan pada pertumbuhan tanaman, termasuk kebutuhan nitrogen untuk mendukung pembentukan dan pertumbuhan bagian vegetatif.
Memasuki fase generatif, perhatian bergeser pada pembentukan malai dan proses reproduksi tanaman. Unsur fosfor menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam pengelolaan tanaman.
Sementara pada fase bunting hingga pengisian bulir, petani perlu menjaga kondisi tanaman agar proses pembentukan dan pengisian gabah berlangsung baik. Kalium menjadi salah satu unsur yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan ketahanan tanaman dan proses pengisian hasil.
“Sekarang tanaman sudah masuk bunting. Ini fase yang harus diamati karena setelah itu tanaman masuk ke pengisian. Harapannya bulir dapat terisi dengan baik sehingga gabah yang dihasilkan bernas,” demikian poin pembelajaran yang dibahas bersama anggota.

Cuaca Panas Jadi Perhatian
Kondisi cuaca juga menjadi bagian dari pengamatan petani. Pada saat cuaca panas, aplikasi pupuk cair dianjurkan dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi risiko tanaman mengalami stres akibat kondisi panas.
Petani juga diingatkan untuk memperhatikan kebersihan tanggul dan lingkungan petakan. Tanggul yang bersih akan memudahkan pengamatan tanaman, pengelolaan air, serta pengendalian gulma di sekitar lahan.
Menariknya, keberadaan rumput di lahan juga menjadi bahan pembelajaran. Petani mengamati bahwa pertumbuhan rumput yang tinggi dapat menjadi salah satu tanda adanya ketersediaan unsur hara di tanah. Namun, keberadaan gulma tetap perlu dikendalikan karena dapat berkompetisi dengan tanaman padi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya dan ruang tumbuh.
Belajar dari Lahan Masing-Masing
Sebagai tindak lanjut, anggota SL Ngudi Ilmu melakukan pembagian sekaligus pembelian pupuk nitrogen, fosfor dan kalium dalam bentuk cair. Pupuk tersebut akan diaplikasikan pada lahan masing-masing anggota dengan mempertimbangkan kondisi tanaman dan kebutuhan di setiap petakan.
Model pembelajaran seperti ini menjadi ciri penting Sekolah Lapang: lahan petani tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Kondisi tanaman diamati, biaya dihitung, pengalaman dibagikan, kemudian hasil pembelajaran digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Bagi kelompok Ngudi Ilmu, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan usaha tani padi tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi. Petani juga perlu memahami berapa biaya yang dikeluarkan, bagaimana kondisi tanaman dikelola, dan bagaimana hasil panen memberikan nilai ekonomi bagi keluarga petani.
Dengan demikian, Sekolah Lapang tidak berhenti pada pembelajaran teknik budidaya, tetapi terus mendorong petani untuk membaca lahannya sendiri, menghitung usaha taninya, dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman serta pengamatan bersama.

oleh Zamzaini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top