
Sragen, 8 September 2026 — Menjelang datangnya musim hujan, kelompok Paguyuban Rawat Bumi Manyarejo (Prabu Manyar) Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, mulai mematangkan rencana kegiatan konservasi lingkungan. Kelompok yang baru terbentuk pada Juli 2026 tersebut berkumpul untuk menyusun langkah dan mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum kegiatan penanaman dimulai.
Pertemuan yang dilaksanakan pada malam hari tersebut berlangsung di Rumah Limasan Bapak Ngadiyo. Rumah limasan ini merupakan bagian dari kompleks yang berada di kawasan Insitu Sangiran, yang dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam pelestarian cagar budaya.
Dalam pertemuan tersebut, anggota Prabu Manyar menyepakati beberapa langkah awal sebagai persiapan menghadapi musim hujan. Salah satu kegiatan utama yang akan dilakukan adalah penyiapan lahan untuk penanaman tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman serbaguna.
Berbagai jenis tanaman telah disiapkan untuk ditanam, antara lain jeruk, mangga Kiojay, mangga Red Ivory, mangga Arum Manis, mangga Manalagi, alpukat Miki, dan alpukat Aligator. Pemilihan tanaman tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat dalam jangka panjang.
Selain menyiapkan lahan, kelompok juga membahas kebutuhan input tanaman, khususnya pupuk dan berbagai nutrisi pendukung pertumbuhan tanaman. Kebutuhan tersebut akan diupayakan melalui swadaya anggota, dengan memanfaatkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anggota kelompok.
“Persiapan dilakukan bersama-sama agar ketika hujan mulai turun, lahan dan kebutuhan tanaman sudah siap sehingga penanaman dapat segera dilakukan,” menjadi semangat yang dibangun dalam pertemuan tersebut.
Rencananya, persiapan lahan akan mulai dilaksanakan pada 13 September 2026. Waktu tersebut dipilih dengan mempertimbangkan perkiraan mulai turunnya hujan sehingga kegiatan penanaman nantinya dapat memanfaatkan ketersediaan air secara alami.
Kegiatan Prabu Manyar ini menjadi langkah awal kelompok dalam membangun gerakan rawat bumi berbasis masyarakat. Dengan menggabungkan kegiatan penanaman, pemanfaatan lahan, penyediaan input secara swadaya, serta penguatan kebersamaan anggota, kelompok diharapkan mampu mengembangkan kegiatan konservasi yang berkelanjutan.
Keberadaan kegiatan di lingkungan Rumah Limasan Bapak Ngadiyo juga memberikan nilai tersendiri. Kawasan tersebut berada dalam lingkungan yang berkaitan dengan Sangiran, sehingga upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan semangat menjaga dan melestarikan kawasan cagar budaya.
Melalui persiapan yang dilakukan sejak sebelum musim hujan, Prabu Manyar berupaya menjadikan momentum turunnya hujan sebagai awal gerakan nyata untuk menanam, merawat, dan memanfaatkan lingkungan secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi berkembangnya gerakan Rawat Bumi Manyarejo yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Oleh Sri Wahyuning