LPTP

Membangun Kesadaran dan Inisiatif Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Membangun Kesadaran dan Inisiatif Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Wonosobo, 29 Juli 2026 — Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan terkait persoalan sampah dilakukan LPTP melalui Pelatihan Pilah Sampah di Dusun Gumelar, Desa Kuripan. Kegiatan ini diikuti oleh 17 peserta,  ibu-ibu warga sekitar dan mahasiswa Unsoed Purwokerto.

Kegiatan diawali dengan refleksi partisipatif untuk menggali pandangan dan pengalaman peserta mengenai kondisi lingkungan di sekitar mereka. Fasilitator menampilkan sejumlah foto yang menggambarkan lingkungan alam yang bersih dan asri. Peserta kemudian diminta menuliskan satu kata yang menggambarkan perasaan atau pendapat mereka terhadap kondisi tersebut pada kertas meta plan.

Kegiatan dilanjutkan dengan menampilkan foto lingkungan yang dipenuhi sampah. Peserta kembali menuliskan tanggapan mereka dalam satu kata. Seluruh tulisan kemudian ditempelkan di dinding dan dibacakan bersama.

Dari proses refleksi tersebut, fasilitator mengajukan pertanyaan sederhana namun mendasar, “Apa permasalahannya?” Secara kompak peserta menjawab, “Sampah.”

Ketika ditanya, “Apa solusinya?”, peserta menyampaikan berbagai gagasan, mulai dari memilah dan mengelola sampah, membangun bank sampah, menimbun sampah, membangun kedisiplinan dalam membuang sampah, hingga mengolah sampah organik menjadi kompos.

Metode refleksi ini menjadi ruang bagi peserta untuk melihat secara langsung perbedaan antara lingkungan yang bersih dan lingkungan yang tercemar. Dari proses tersebut, peserta tidak hanya mengidentifikasi sampah sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga mulai melihat berbagai alternatif solusi yang dapat dilakukan secara bersama-sama.

Belajar dari Pengalaman Bank Sampah

Pada kesempatan tersebut seorang pengurus Bank Sampah dari Kelurahan Kejiwan, berbagi pengalaman dalam proses pembentukan dan pengelolaan bank sampah yang telah berjalan di Kelurahannya.

Narasumber menjelaskan berbagai aspek pengelolaan bank sampah, mulai dari membangun partisipasi masyarakat, mekanisme pengumpulan dan penimbangan, pencatatan sampah, hingga pengelolaan hasil penjualan. Dari pemaparan tersebut peserta mendapatkan gambaran mengenai manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan yang dapat diperoleh melalui pengelolaan sampah secara terorganisasi.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa pemilahan sampah perlu dilakukan sejak dari rumah. Sampah yang dikumpulkan dalam kondisi tercampur akan menyulitkan petugas atau pengurus dalam proses pemilahan berikutnya. Karena itu, kebiasaan memilah sampah dari sumber menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan bank sampah.

Dari sisi ekonomi, narasumber menjelaskan bahwa hasil penjualan sampah dapat dicatat dan dimasukkan ke rekening masing-masing anggota. Setelah bank sampah berjalan selama beberapa tahun, terdapat kebijakan alokasi sebesar 5 persen untuk pengurus sebagai bagian dari pengelolaan kelembagaan.

Dalam proses penimbangan, penggunaan timbangan yang mudah dilihat dan dibaca juga menjadi perhatian. Pengepul disarankan menggunakan timbangan gantung dengan jarum penunjuk seperti jam atau timbangan digital sehingga proses penimbangan dapat dilakukan secara terbuka dan mudah dipahami anggota.

Namun demikian, narasumber menegaskan bahwa tujuan utama bank sampah bukan semata-mata mendapatkan keuntungan ekonomi, melainkan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Nilai ekonomi dari sampah menjadi salah satu manfaat tambahan yang dapat mendorong masyarakat untuk terus melakukan pemilahan.

Mendorong Inisiatif Desa Kuripan

Pelatihan diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif, dimana peserta aktif menggali informasi mengenai tahapan pembentukan bank sampah, kelembagaan, mekanisme pemilahan dan penimbangan, pemasaran hasil sampah, hingga cara menjaga komitmen masyarakat agar kegiatan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun pemahaman bersama bahwa persoalan sampah tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga perubahan perilaku dan kelembagaan masyarakat. Pemilahan dari rumah, kedisiplinan membuang sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta pengembangan bank sampah merupakan beberapa pilihan yang dapat dikembangkan sesuai kondisi Desa Kuripan.

Melalui proses belajar dan berbagi pengalaman tersebut, peserta diharapkan mampu menjadi bagian dari perubahan perilaku pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga sekaligus mendorong lahirnya inisiatif pengelolaan sampah yang lebih terorganisasi di Desa Kuripan.

Oleh tim LPTP Wonosobo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top