LPTP

Perkuat Sanitasi dan Pengelolaan Sampah, Masyarakat Ikuti Pelatihan STBM

Perkuat Sanitasi dan Pengelolaan Sampah, Masyarakat Ikuti Pelatihan STBM

Pasuruan, 9 Oktober 2026 – Upaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat untuk Desa Keboncandi terus dilakukan LPTP melalui Pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diselenggarakan pada 9 Oktober 2026, di Pendopo Desa Keboncandi, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini diikuti 50 peserta, terdiri atas 21 perempuan dan 29 laki-laki, yang meliputi perangkat desa, ketua RT dan RW, kader kesehatan, serta perwakilan rumah tangga yang menjadi sasaran Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAM-RT) di Dusun Buyutan.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memperbaiki praktik sanitasi rumah tangga, serta mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik di tingkat desa.

STBM merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk membangun perilaku hidup bersih dan sehat melalui metode pemicuan serta mendorong perubahan perilaku secara berkelanjutan.

Terdapat lima pilar STBM yang menjadi dasar penerapan sanitasi di masyarakat, yaitu tidak buang air besar sembarangan (STOP BABS), mencuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga yang aman, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga secara aman.

Desa Keboncandi telah dinyatakan berstatus Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari buang air besar sembarangan pada 2019. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk melanjutkan penguatan pilar STBM lainnya, khususnya kebiasaan mencuci tangan, keamanan air minum, pengelolaan sampah, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mempertahankan status ODF sekaligus mewujudkan desa dengan sanitasi berkelanjutan.

Dalam pembahasan kualitas air minum rumah tangga, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai hasil survei SKAM-RT di Dusun Buyutan. Dari 10 rumah tangga yang disurvei, ditemukan hasil pengukuran TDS atau jumlah padatan terlarut yang menjadi perhatian dalam pengelolaan air minum. Peserta diingatkan untuk menjaga kebersihan wadah air minum, seperti teko dan botol, serta memperhatikan pengolahan air sumur sebelum dikonsumsi. Untuk memastikan keamanan air minum, pengolahan dan pengujian kualitas air perlu dilakukan sesuai dengan kondisi sumber air dan standar kesehatan yang berlaku.

Pengelolaan Sampah Menjadi Fokus Diskusi

Pilar keempat STBM, yaitu pengelolaan sampah rumah tangga. Diskusi mengidentifikasi kondisi persampahan Desa Keboncandi yang memiliki 496 rumah dan tempat penampungan sampah seluas sekitar 500 meter persegi.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah belum seluruh rumah tangga mengikuti iuran pengangkutan sampah. Sejumlah alasan yang disampaikan masyarakat antara lain belum mendapatkan tempat sampah dan adanya kesalahpahaman saat sosialisasi. Di beberapa wilayah, partisipasi iuran juga belum merata.

Persoalan lainnya adalah penumpukan sampah di tempat penampungan desa. Sampah yang tercampur membuat proses pembakaran tidak berjalan tuntas sehingga volume sampah terus bertambah. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perubahan kebiasaan pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

Salah satu langkah yang disepakati adalah memilah sampah dari sumbernya, terutama memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik diharapkan dapat diolah di tingkat rumah tangga, misalnya menjadi kompos, sehingga tidak seluruhnya dibuang ke tempat penampungan desa. Sementara itu, sampah anorganik perlu dipisahkan agar dapat dikelola lebih lanjut sesuai jenisnya.

Sosialisasi Berjenjang di Setiap RT

Sebagai tindak lanjut, para ketua RT akan mengadakan sosialisasi pengelolaan sampah dalam pertemuan warga dengan pendampingan pengurus tempat penampungan sampah desa. Sosialisasi dijadwalkan secara bertahap mulai Oktober hingga Desember 2026.

Melalui pelatihan dan rencana tindak lanjut tersebut, masyarakat Desa Keboncandi diharapkan semakin aktif menjaga sanitasi lingkungan, meningkatkan partisipasi dalam pengelolaan sampah, serta membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah. Kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, pengurus persampahan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mempertahankan capaian ODF dan mendorong terwujudnya Desa STBM Berkelanjutan.

Oleh Rozi, Sandi, dan Fichri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top