
Sragen 29 juli 2026-Sebanyak 20 orang peserta mengikuti kegiatan Sekolah Lapang (SL) Perikanan yang diselenggarakan di Desa Manyarejo Plupuh. Pertemuan ini mengangkat topik pre-test dan kontrak belajar sebagai tahapan awal untuk membangun proses pembelajaran yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Pelaksanaan pre-test kelompok SL Mino Margo Rahayu ini menggunakan metode Ballot Box, yaitu metode penilaian partisipatif yang memungkinkan peserta memberikan jawaban secara sederhana melalui kotak pilihan. Metode ini dipilih agar seluruh peserta dapat berpartisipasi aktif serta memberikan gambaran awal mengenai tingkat pengetahuan dan pengalaman mereka dalam budidaya ikan, khususnya ikan gurami.
Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman dalam memelihara ikan gurami. Pengetahuan tersebut diperoleh secara turun-temurun dan berkembang dari pengalaman praktik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Modal pengalaman ini menjadi kekuatan penting bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha budidaya perikanan.
Meski demikian, hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa literasi teknis mengenai budidaya gurami masih perlu terus ditingkatkan. Penguatan pengetahuan ilmiah diharapkan dapat melengkapi pengalaman yang telah dimiliki masyarakat sehingga praktik budidaya menjadi lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada peningkatan hasil produksi. Selama proses Sekolah Lapang, peserta akan didampingi oleh fasilitator dan narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang budidaya perikanan sehingga materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Salah satu contoh pengetahuan lokal yang telah dimiliki peserta adalah kemampuan mendeteksi kelayakan pH air hanya berdasarkan insting dan pengalaman, tanpa menggunakan alat ukur. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan budidaya. Namun demikian, kemampuan tersebut akan diperkaya dengan penggunaan alat ukur kualitas air sehingga pengambilan keputusan dalam pengelolaan kolam dapat dilakukan secara lebih akurat dan terukur.
Setelah pelaksanaan pre-test, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan kontrak belajar. Pada sesi ini peserta bersama fasilitator menyepakati kembali jadwal pertemuan, lokasi lahan belajar, serta melakukan pemutakhiran daftar peserta yang akan mengikuti rangkaian Sekolah Lapang hingga selesai.
Kontrak belajar menjadi bentuk komitmen bersama antara peserta dan fasilitator untuk menjaga konsistensi kehadiran, partisipasi aktif, serta kedisiplinan selama proses pembelajaran berlangsung. Kesepakatan tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif, memperkuat semangat kebersamaan, serta mendukung tercapainya tujuan Sekolah Lapang Perikanan, yaitu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam budidaya ikan gurami yang produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.
Oleh Bejo Sibet