Sekolah Lanjutan Budidaya Padi

Sekolah Lanjutan Budidaya Padi

“Penangkaran Benih Padi”

Sekolah Lapang (SL) kebudayaan budidaya padi kelompok SL Ngudi Ilmu Desa Manyarejo masuk ke tahun kedua. Pada tahun ini kelompok SL akan mengembangkan dan memperdalam budidaya jenis padi merah dan padi hitam, yang tentu memerlukan perlakuan tertentu. Sebelum lebih jauh, pada pertemuan SL ke dua tanggal 23 April 2026 ini, anggota SL berdiskusi untuk memperdalam persoalan benih.

Diskusi diawali dengan mengungkapkan pengalaman penerapan varietas padi musim ke 2 yang lalu dengan mengubah yang dulunya menggunakan varietas IR 32 ke varietas Pepe, cakra buana, hitam dan sunggal dengan alasan agar serangan hama dan penyakit dapat diminimalisir.

Pada budidaya tersebut rata-rata peserta SL melakukan pemupukan antara 7 hari sampai 15 hari setelah tanam. Terdapat juga salah satu petani yang melakukan pemupukan berdasarkan kalender musim atau pranoto mongso, yaitu menunggu habisnya mongso ke songo. Cara ini dipatuhi oleh petani sebagai bentuk aplikasi pengalaman bertani berdasarkan pengetahuan lokal yang diyakini merupakan keselarasan perubahan cuaca dengan kondisi tanaman setempat.

Pemilihan bibit sebagai sumber awal budidaya, petani lebih banyak memilih bibit yang dibeli dari bibit kemasan. Beberapa alasan diungkapkan bahwa bibit kemasan memiliki kualitas yang baik, proses pembenihan di lahan lebihn cepat, menyesuaikan dengan perubahan varietas dan memudahkan control varietas yang ditanam. Terdapat juga sumber bibit yang dibeli dari bibit yang sudah dibenihkan dalam bentuk gulungan dan siap tanam. Pemilihan ini dengan alasan kesibukan lain yang tidak memungkinkan petani melakukan pembibitan sendiri.

Untuk menyamakan persepsi, dalam diskusi disiang hari tersebut, fasilitator memperdalam pengetahuan terkait dengan definisi seputar benih. Yang pertama petani diajak mendiskusikan terkait definisi benih. Peserta mengungkapkan bahwa benih merupakan calon tanaman yang akan ditanam pada lahan. Senada dengan hal tersebut Sebagian mengungkapkan bahwa benih merupakan calon bibit atau calon tandur (jawa) yang merupakan cikal bakal gabah atau beras yang nantinya akan dipanen.

Pemilihan benih tentunya jatuh pada benih unggul atau bermutu. Benih unggul atau bermutu oleh peserta diartikan sebagai benih yang memiliki kualitas baik, super, terbaik dari yang terbaik, dan tentunya dapat menghasilkan panen yang baik, yaitu panen dengan jumlah yang relative besar. Ini diimbangi dengan mudahnya proses budidaya dan minimnya serangan hama dan penyakit yang ditimbulkan. Meskipun penyakit dan serangan hama muncul dari luar factor pemilihan benih itu sendiri.

Benih murni tanpa campuran disisi lain memiliki kelemahan. Dari pengalaman ini beberapa petani melakukan proses yang disebut benih oplosan. Khususnya pada musim tanam pertama. Mengoplos atau mencampur dengan jenis lain berdasarkan pengalaman dilakukan untuk menghindari robohnya tanaman pada saat padi mulai berisi. Pada musim tanam pertama hujan dan angin  menjadi salah satu penyebab robohnya tanaman yang mengakibatkan gagal panen. Benih dengan kekuatan menghasil bulir banyak perlu diperkuat dengan benih yang memiliki kekuatan saat diterpa hujan dan angin. Meskipun hal ini belum diperkuat dengan kajian ilmiah, akan tetapi pengalaman lapangan memberikan pengetahuan petani untuk menghindari resiko gagal panen. Kelemahan dari benih oplosan ini adalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak serempak, ancaman serangan hama dan penyakit lebih besar, dan hasil panen tidak bisa diprediksi.

Persepsi ini diperdalam lagi dengan menggali pendapat peserta terkait definisi varietas. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa varietas adalah kelompok benih atau tanaman yang sudah melewati proses penelitian, yang nantinya menjadi komoditas yang mudah dikenal oleh petani.

Pada akhir sesi diskusi merumuskan beberapa hal, berdasarkan kajian literasi tentang benih, yaitu bahwa benih bermutu memiliki beberapa syarat, antara lain benih bersih bebas dari kotoran, baik dari material alam seperti kerikil maupun material buatan seperti plastic maupun benda-benda lain. Kualitas benih ditentukan oleh seberapa besar jumlah benih kosong (gabluk-jawa), karena bisa dipastikan dalam satu kemasan pasti terdapat benih yang tidak berisi. Benih bermutu juga ditentukan oleh kandungan calon varietas lain (CVL) dalam setiap satuan beratnya, yaitu kurang dari 5 persen. Ini menjadi hal yang wajar karena produksi benih kemasan tidak bisa diawasi langsung oleh petani. Selain warna benih yang cerah, kualitas juga ditentukan oleh Tingkat kadar air yang dikandung, yaitu Tingkat kekeringan antara 9-11 persen.

Menggunakan benih kemasan tidak lepas dari pemahaman label yang disertakan didalamnya. Beberapa manfaat yang perlu diketahui dalam memahami isi label adalah untuk mengetahui varietas dan mutu, mengetahui berat bersih, mengetahui tanggal pengujian dan kadaluwarsa.

Mengetahui label juga dapat bermanfaat untuk mengontrol pertumbuhan tanaman yang serempak, pembungaan, penggunaan bibit agar lebih hemat dan prediski produksi yang tinggi berdasarkan varietas yang dipilih.

Kajian diskusi dari pengalaman lapangan dan literasi ini akan dijadikan bekal dalam sekolah lapang dan aplikasi di lahan masing-masing. Meningkatkanya pengetahuan disertai dengan perubahan perilaku dalam budidaya saat ini, merupakan salah satu dampak dari hasil yang diperoleh selama sekolah lapang sebelumnya, yang akan dijadikan acuan budidaya dan desiminasi pengetahuan kepada petani lain yang belum sempat mengikuti sekola lapangan. 

Oleh : Zamzaini

Scroll to Top