
Tanaman koro khusunya koro benguk (Mucuna pruriens) dan koro pedang (Canavalia ensiformis) merupakan komoditas lokal yang pernah dibudidayakan oleh masyarakat desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Tanaman koro ini sebelumnya dikenal sebagai sumber pangan alternatif yang mampu tumbuh baik di lahan kering dan kawasan sekitar hutan. Namun, seiring perubahan pola tanam dan berkurangnya pemanfaatan, budidaya koro perlahan menurun dibudidayakan masyarakat desa Banyurip dan ketika kebutuhan bahan baku untuk pembuatan olahan harus mendatangkan dari luar desa.
Melihat potensi ekologis dan ekonominya, inisiatif untuk menghidupkan kembali budidaya khususnya koro pedang kini mulai dilakukan di desa Banyurip, khususnya di kawasan perhutanan sosial. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat komoditas lokal yang adaptif terhadap kondisi lahan, sekaligus mendukung peningkatan penghidupan masyarakat desa berbasis pengelolaan hutan secara Lestari.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, pelatihan pasca panen koro pedang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Januari 2026 bertempat di Oemah Koro Bimardi Farm and Park Keblokan Segoro Ijo Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kembang Pilang, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Banyurip Lestari yang selama ini terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan dan pertania, kegiatan ini difasilitasi oleh LPTP dan Yayasan KEHATI. Pelatihan pasca panen ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta dalam menangani koro pedang setelah panen, mulai dari proses sortasi, pengeringan, hingga penyimpanan. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga mutu hasil panen agar memiliki nilai tambah dan peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan.
Kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan materi dan praktik langsung yang di pandu narasumber dari Oemah Koro yaitu Sukesti Nuswantari sebagai Koordinator Jaringan Petani Nasional area Wonogiri, penasehat Asean Council For Small Business (ACSB) area Wonogiri. Pada sesi praktik, peserta langsung mempraktikkan pengolahan koro pedang menjadi tempe, dari pemilihan bahan baku, perendaman, perebusan, pengupasan kulit ari, hingga proses fermentasi. Peserta memperoleh pemahaman langsung mengenai potensi koro pedang sebagai bahan pangan lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan memiliki peluang pasar. Pengolahan tempe koro pedang dinilai mampu menjadi solusi alternatif di tengah ketergantungan terhadap kedelai, sekaligus mendukung pemanfaatan komoditas lokal hasil budidaya masyarakat. Diskusi yang berlangsung selama pelatihan juga menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman serta tantangan dalam membudidayakan dan memanfaatkan koro pedang. Melalui pelatihan ini diharapkan koro pedang tidak hanya kembali dibudidayakan, tetapi juga mampu dikembangkan sebagai komoditas desa untuk mendukung penguatan usaha KUPS dan LMDH. Upaya ini sekaligus menjadi bagian strategi pengelolaan perhutanan sosial yang berkelanjutan di desa Banyurip.
Oleh : Niken Prihartari