Pendidikan dan Sertifikasi Kompetensi Profesi Pemberdayaan Masyarakat.

Pendidikan dan Sertifikasi Kompetensi Profesi Pemberdayaan Masyarakat.

Batch #1

Boyolali, Januari 2026

Sebanyak dua puluh tujuh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi syariah UIN (Universitas Islam Negeri) Abdurrahman Wahid Pekalongan mengikuti Pendidikan dan Sertifikasi Kompetensi Profesi Pemberdayaan Masyarakat kelompok 1 di LPTP Surakarta.

Acara yang dikemas dengan nama Benchmarking PKM tersebut diharapkan mampu memberikan bekal kepada mahasiswa sehingga memiliki kompetensi profesi sebagai praktisi dan atau konsultan pengembangan masyarakat, baik sebagai peneliti, penyuluh, maupun fasilitator pengembangan masyarakat dalam berbagai isu pembangunan seperti pengembangan keagamaan Islam, pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan hidup, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, dan lain sebagainya.

Keseluruhan kegiatan yang akan berlangsung dalam 4 gelombang tersebut diikuti oleh total seratus lima mahasiswa dan berlangsung di Desa Pagerjurang Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali Jawa Tengah.

Dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa akuntansi syariah dalam bidang pengembangan masyarakat; mengintegrasikan pengetahuan akuntansi dengan praktik baik dalam bidang; pengembangan masyarakat sebagai bentuk aktualisasi disiplin ilmu di perguruan tinggi, uji kompetensi dan sertifikasi profesi, pemberdayaan masyarakat; dan meningkatkan kesiapan kerja lulusan program studi akuntansi syariah dalam bidang pengembangan masyarakat, mahasiswa diharapkan mendapatkan beberapa hal, antara lain :

1.        Adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pengembangan masyarakat;

2.        Adanya kompetensi profesi yang teruji dalam praktik di masyarakat.

3.        Kesiapan kerja dalam bidang pengembangan masyarakat.

Dari Pendidikan ini diharapkan mahasiswa nantinya dapat memiliki kompetensi dalam hal, diantaranya :

1.        Menguasai data dan informasi baik data sosial maupun spatial suatu masyarakat guna mengetahui gejala-gejala masalah yang mempengaruhi kehidupan masyarakat;

2.        Penerapan alat analisa sosial dan spasial, sebagai proses memahami situasi dan kondisi masalah yang dihadapi masyarakat secara mendalam;

3.        Merancang dan menerapkan siklus daur manajemen program, sebagai alat untuk proses-proses perubahan sosial yang akan dikembangkan;

4.        Merancang dan menerapkan teknologi tepat guna, sebagai cara untuk memperbaiki pengelolaan dan peningkatan sumberdaya alam dan lingkungan;

5.        Merancang dan menerapkan fasilitasi masyarakat sebagai pembelajaran Masyarakat untuk menata kehidupan menjadi lebih baik;

6.        Menulis gagasan, perencanaan, dan pelaporan program dengan baik, sebagai media komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam program pengembangan masyarakat sehingga proses-proses perubahan sosial dipelajari dengan baik; dan

7.        Menyajikan dan mempresentasikan gagasan serta hasil kegiatan dengan baik.

Keahlian tersebut akan dapat menciptakan mahasiswa yang mampu menjalankan profesinya sebagai konsultan maupun fasilitator pengembangan masyarakat baik sebagai advisor, designer, implementor, supervisor, maupun evaluator.

Dalam prosesnya mahasiswa dibekali dengan metodologi pembelajaran menggunakan pendekatan participatory rural appraisal (PRA) dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk sebanyak mungkin mengeksplorasi dan meng-exercise kemampuan profesionalnya dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengalaman kolektif dan kesadaran kritis.

Pembelajaran dibagi menjadi beberapa bagian yaitu 70% melakukan, 20% mengkaji,

dan 10% mengevaluasi dan merefleksikan. Proses pemahaman teori dilakukan di dalam kelas dan praktek dilaksanakan di lapangan. Proses pembelajaran mengkaji dan refleksi dilakukan dengan klasikal. Pada sub pembelajaran dengan melakukan aktivitas di masyarakat langsung dalam bentuk simulasi-simulasi.

Peserta mengikuti beberapa tahapan materi kelas dan praktek, seperti :

1.        Pengenalan LPTP, dengan harapan peserta mampu memahami praktek kerja yang dilakukan lembaga yang bergerak dalam mendampingi masyarakat langsung.

2.        Pre Test dan Kontrak belajar. Proses ini menjadi bagian utama sebelum dilakukannya proses agar peserta dapat dengan presisi mengikuti semua alur dan materi yang disajikan.

3.        Pemetaan wilayah dan temuan lapangan. Mengenali wilayah dengan semua potensi dan masalahnya menjadi tahap awal peserta untuk mengidentifikasi kondisi sosial yang akan diatasi. Inilah bahan dasar untuk melangkah pada proses selanjutnya.

4.        Analisis hasil pemetaan dan Teknis merumuskan gagasan program. Berbekal situasi masalah pada nomor tiga peserta dituntut untuk mengatasi masalah dan potensi yang ada agar menemukan Solusi yang tepat.

5.        Teknik penulisan proposal. Proposal merupakan cerminan dari cara menformulasikan gagasan yang harus diatasi melalui bentuk tulisan, agar gagasan tersebut dapat dipahami dan mudah diingat sebagai acuan kerangka kerja dalam melakukan aksi Solusi.

6.        Strategi pengelolaan program pemberdayaan Masyarakat. Pengejawantahan proposal dalam bentuk aksi bersama memerlukan dukungan dari banyak pihak dengan berbagai karakternya. Strategi menyamakan langkah dan pemahaman bersama penting agar tujuan dari rumusan penyelesaian masalah dapat dicapai secara bersamaan tanpa menimbulkan konflik.

7.        Praktik pengembangan Teknologi Tepat Guna, merupakan bentuk aplikasi kegiatan yang mudah ditiru, mudah dan memberikan kontribusi ekonomi bagi Masyarakat berdasarkan dengan kondisi sumber daya manusia dan sumbenr daya potensi yang tersedia.

8.        Green environmental accounting. Konsep usaha ekonomi untuk pemenuhan hidup rumah tangga perlu ditata dan dipahami dalam skala tertentu sehingga masyarakat dapat melihat efektif usaha yang dijalankan. Tentunya dengan mempertimbangkan keberlangsungan dalam jangka waktu tertentu agar lingkungan sumber daya yang dikelola tetap lestari dan terbarukan.

Pendidikan dan sertifikasi kompetensi profesi, pemberdayaan masyarakat yang merupakan Kuliah Kerja Lapangan menjadi cara belajar mahasiswa tingkat dasar yang diselenggarakan lembaga pendamping masyarakat sebagai bekal untuk menstimulasi praktik praktik mahasiswa saat nantinya terjun langsung di masyarakat dengan berbagai kondisi yang berbeda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top