admin – LPTP Surakarta http://lptp.or.id Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Wed, 16 Oct 2019 06:02:50 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.4 https://i0.wp.com/lptp.or.id/wp-content/uploads/2019/07/cropped-logo-lptp-viktor.png?fit=32%2C32 admin – LPTP Surakarta http://lptp.or.id 32 32 164617430 Pemuda dan Sampah Kampungnya http://lptp.or.id/pemuda-dan-sampah-kampungnya/ http://lptp.or.id/pemuda-dan-sampah-kampungnya/#respond Thu, 18 Jul 2019 16:36:23 +0000 http://lptp.or.id/?p=242 (Cerita dari Tuban, diceritakan oleh Fahruzzaman Photo By Allan)

“Jangan pernah takut untuk memulai”. Langkah  pertama biasanya menjadi langkah paling berat, karena penuh dengan bayangan sendiri yang memicu keragu-raguan.  Namun, untuk bergerak maju, langkah pertama harus dijalankan. Begitulah  semangat anak-anak muda desa Karangagung  Kabupaten Tuban untuk memulai mengurus sampah di kampungnya.

Sore 17 juli 2019 menjadi penanda bahwa mereka benar-benar memulai langkah pertama dalam mengelola sampah di kampungnya yang sangat padat penduduk. Anak-anak muda ini mulai melakukan riset tentang jumlah sampah yang diproduksi oleh rumah tangga. Dari 15 rumah tangga, terkumpul sampah seberat 10 kg.apa itu artinya?

Itu artinya, setiap rumah tangga memberikan sumbangan sampah seberat 0,7 kg/ 2 hari. Jika kampung yang dihuni 2.804 rumah tangga itu membuang sampah ke laut, maka setiap 2 hari laut jawa akan dibebani sampah sebesar 2 ton. Ingat…itu baru dari satu desa di pinggir pantai dan itu hanya hitungan 2 hari. Bagaimana jika dihitung selama 1 tahun? Maka pantas saja ada berita ikan paus mati karena memakan plastik atau kondisi terumbu karang laut jawa yang semakin hancur.

Lalu dikemanakan sampah itu oleh anak-anak muda desa Karangagung? Mereka memulai memisahkan sampah berdasarkan jenis organik dan anorganik. Sampah-sampah organik yang terkumpul berupa daun, sisa makanan, dan tulang-tulang ikan diolah menjadi kompos. Untuk nantinya bisa mereka gunakan sebagai media tanam di kampungnya atau bisa dijual.

Sedangkan sampah plastik berupa bungkus makanan, tas kresek, dan bahan plastik lainnya diolah oleh 2 (dua) anak muda untuk menjadi ecobrik atau paving dari plastik. Dua anak muda ini biasa dipanggil Ibad dan Mecky.

#LPTPberkarya

#lptpdirectaction

#Lptp_solo

]]>
http://lptp.or.id/pemuda-dan-sampah-kampungnya/feed/ 0 242
Kembangkan Sumber Daya, 5 Desa Terima LPTP Award http://lptp.or.id/kembangkan-sumber-daya-5-desa-terima-lptp-award/ http://lptp.or.id/kembangkan-sumber-daya-5-desa-terima-lptp-award/#respond Thu, 18 Jul 2019 16:18:56 +0000 http://lptp.or.id/?p=239 KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Penggerak usaha asal lima desa di Jawa Tengah memperoleh penghargaan Yayasan Pengembangan Teknologi Perdesaan (LPTP). Mereka berhasil mengaplikasi teknologi untuk memaksimalkan sumber daya alam yang terbatas di desanya.

“Kita membangun prototipe di LPTP. Namun progresnya lambat, sehingga membangun industri di desa berbasis pangan dan sanitasi. Sejumlah desa yang berhasil dalam kerjasama, kita apresiasi,” kata Rahadi, Ketua Badan Pengurus LPTP di Lorin Hotel.

Penghargaan pertama diberikan ke warga Jumapolo, Aisyiyah Sartini dari Koperasi Karya Manunggal (Kokama). Koperasi ini memodivikasi singkong dan memfermentasinya menjadi tepung rendah kalori. Penghargaan berikutnya tertuju Wagiyo dari Himpunan Tani Ngudi Makmur asal Jatiyoso. Kelompok taninya membudidaya benih padi hitam yang hampir punah dari daerahnya. Lalu, Desa Blederan Kecamatan Mojotengah, Wonosobo yang membudidaya sayur minim lahan. Penghargaan diterima Kades Muttaqin. Selanjutnya Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Klaten yang mampu mandiri menyuplai energi dari biogas limbah kandang sapi. Terakhir, Desa Karangagung, Tuban yang berinisiasi memperbaiki sanitasi lingkungan dan pengelolaan sampah rumah tangga.

“Tujuan keseluruhan, kita ingin jalin kerjasama berbagai pihak. Misalnya tepung mocaf yang sedang dijajaki perusahaan Tiga Pilar,” katanya.

Pemberian penghargaan ini bersamaan upacara penutupan rapat dewan pembina lima tahunan.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengapresiasi peran LPTP dalam mendampingi kelompok usaha skala rumah tangga. Terkait program kerja, ia bersedia mendampingi LPTP.

Hadir di kesempatan itu, Ketua Dewan Pembina LPTP Akbar Tanjung.

“Dewasa ini kita akan memasuki era digital dan inovasi teknologi 5.0, maka LPTP harus bisa mengantisipasi dan melakukan adaptasi atas laju perkembangan tersebut,” katanya.

Politisi senior Partai Golkar ini mengatakan beban LPTP semenjak era reformasi di sisi nonprofit, terasa lebih berat dan mendapat

tekanan. Sementara sisi bisnis, LPTP akan jauh tertinggal kalau tidak ikut melaju dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat.

“Kita harus senantiasa mencari solusinya mau kemana LPTP dalam berpartisipasi di abad 21 ini,” katanya. (Lim)

]]>
http://lptp.or.id/kembangkan-sumber-daya-5-desa-terima-lptp-award/feed/ 0 239
Buka Bersama Komunitas LPTP http://lptp.or.id/buka-bersama-komunitas-lptp/ http://lptp.or.id/buka-bersama-komunitas-lptp/#respond Sat, 26 Jul 2014 19:08:04 +0000 http://lptp.or.id/?p=321 Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan diselenggarakan buka puasa bersama. Kegiatan buka bersama ini diawali dengan pengajian yang menghadirkan mubaligh lokal mitra LPTP. Di tengah kesibukan menjalankan tugasnya serta melaksanakan ibadah puasa, aktivis LPTP selalu berdatangan mengikuti kegiatan buka bersama ini.
Pada romadhan tahun ini kegiatan buka bersama selain diselenggarakan di kantor pusat LPTP di Palur juga diselenggarakan di dua kantor lapangan serta satu kantor badan usaha Yayasan LPTP. Yang di kantor lapangan di selenggarakan di Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Sleman DIY dan satunya lagi di Desa Wangen Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. Sedang badan usaha Yayasan LPTP yang juga selalu menyelenggarakan kegiatan buka bersama adalah  PT Dewats yang menyelenggarakan kegiatan buka bersamanya di kantornya di Desa Sambilegi Maguwo Jogyakarta.
Untuk kantor LPTP Palur diselenggarakan paling akhir dan sekaligus menandai saat dimulainya libur panjang LPTP. Selain itu ada satu anggota Dewan Pembina Yayasan LPTP yang juga menyelenggarakan buka bersama di rumahnya di Solo Baru yang dihadiri oleh komunitas LPTP. Total pada romadhan tahun ini keluarga besar LPTP menyelenggarakan 5 kali buka bersama komunitas LPTP.
 Agenda buka besama komunitas LPTP pada lima tempat itu sebagai berikut :

No

Hari/Tanggal

Tempat

Waktu

1

Jumat, 11 Juli 2014 Kantor Lapangan Umbulharjo, Cangkringan, Sleman

16.30

2

Jumat, 18 Juli 2014 Kantor Lapangan Desa Wangen, Polanharjo, Klaten

16.30

3

Selasa, 22 Juli 2014 Kantor Dewats, Desa Sambilegi Maguwo, Sleman`

16.30

4

Rabu, 23 Juli 2014 Rumah Drs Endu Marsono (DP LPTP) Solo Baru, Sukoharjo

16.30

5

Jumat, 25 Juli 2014 Kantor Pusat LPTP, Palur, Karanganyar

16.30

Di Umbulharjo yang merupakan kantor lapangan program pengembangan ternak terpadu Merapi Farm, kegiatan buka bersama ini mengundang masyarakat setempat. Para peternak dan petani yang didampingi LPTP di kawasan Merapi hadir mengikuti buka bersama. Kepala desa dan perangkat desa Umbulharjo serta warga di sekitar lokasi kantor juga hadir mengikuti kegiatan ini. Meskipun dilaksanakan sederhana namun kegiatan ini mampu memberikan kebahagiaan bersama.
Sementara itu di kantor lapangan Wangen, kegiatan buka bersama juga melibatkan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Petani tiga desa yang tergabung dalam sekolah lapang yang didampingi LPTP hadir dalam kegiatan ini. Kepala desa Wangen mengikuti kegiatan buka bersama ini dengan warga masyarakat  yang aktif dalam kegiatan program pengembangan kawasan Sub Das Pusur  (IPWD) yang sedang dijalankan oleh LPTP.
Di kantor Dewats suasana buka bersama meriah karena dihadiri mitra lama Dewats dan LPTP. Suasananya pun bagai reuni saja. Pegiat LPTP baik dari kantor lapangan Umbulharjo, Wangen dan juga dari kantor Palur hadir mengikuti buka bersama itu. Demikian pula mitra kerja PT Dewats di Jogja banyak yang berdatangan menghadiri acara itu.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bulan puasa ini salah seorang anggota Dewan Pembina Yayasan LPTP, Endu Marsono juga menyelenggarakan agenda buka bersama di rumahnya. Yang bersangkutan merupakan angkatan pertama di LPTP dan sekarang salah satu bendahara di Dewan Pembina Yayasan LPTP. Pada saat buka bersama ini biasanya kawan-kawan lamanya hadir, termasuk dari LPTP. Sebagai mubaligh pada buka bersama ini Drs. Robith Syahbani yang juga senior LPTP.
Buka bersama di kantor LPTP di Palur sebagaimana biasanya diselenggarakan paling akhir mendekati berakhirnya bulan Romadhan. Seperti biasanya buka bersama dilakukan bersahaja namun selalu meriah. Semua staf LPTP baik yang ada di lapangan maupun kantor hadir. Mereka yang bertugas dalam program PfR di Ende yang sedang libur lebaran juga hadir mengikuti kegiatan ini. Kegiatan buka bersama ini diselenggarakan di halaman terbuka depan Gazebo Marsudi Sudjak. Sebagai pembicara Drs. M. Hari Mulyadi dari Dewan Pembina Yayasan LPTP. Dengan ringkas senior LPTP ini menguraikan nilai-nilai LPTP yang selalu dipegang teguh oleh aktivis LPTP dari dulu hingga sekarang.
Kegiatan di kantor pusat LPTP ini meriah karena banyak yang datang. Mereka yang sudah tidak aktif pada kegiatan LPTP juga hadir. Aktivis LPTP yang baru yang sekarang tersebar di Klaten, Sleman, Wonosobo dan Ende berdatangan. Mitra kerja LPTP dari Insist Jogya, Sarihusada dan lainnya hadir. Mereka yang karena kesibukan tugasnya masing-masing dapat saling berinteraksi.
Suasana pun menjadi meriah saat waktu buka tiba. Mereka makan, minum dan sholat bersama. Sebagaimana biasanya LPTP menyediakan beragam hidangan yang dapat dipilih. Seperti biasanya tengkleng selalu menjadi favorit. Meskipun sudah disediakan empat panci besar namun tak tersisa. Sambil menikmati mereka ngobrol dengan kawan-kawannnya.
Buka bersama di kantor pusat Palur di lingkungan LPTP ini juga merupakan pertanda semua aktivitas LPTP akan berhenti  untuk sementara waktu. Besoknya para aktivis LPTP akan menjalani libur panjang lebaran di kampungnya masing-masing. Mereka akan bertemu lagi pada minggu pertama bulan Agustus untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
]]>
http://lptp.or.id/buka-bersama-komunitas-lptp/feed/ 0 321
Refleksi 35 Tahun LPTP http://lptp.or.id/refleksi-35-tahun-lptp/ http://lptp.or.id/refleksi-35-tahun-lptp/#respond Tue, 03 Dec 2013 01:57:51 +0000 http://lptp.or.id/?p=338 35 tahun bukan waktu yang pendek. Jika manusia sudah menjadi orang yang dewasa, jika lembaga tentu sudah menjadi lembaga yang mapan dan kaya pengalaman. Bulan November 2013 merupakan bulan istimewa bagi LPTP. Pada bulan November di tahun 2013 ini LPTP genap 35 tahun. Pada bulan ini tepatnya tanggal 10 November 1978 merupakan saat LPTP lahir, dideklarasikan dan mulai menjalankan aktivitasnya. Mereka  yang terlibat dalam pendeklarasian LPTP itu sekarang bahkan sudah tiada.
Dengan semangat menatap dunia dengan cara berbeda serta dengan pola bersahaja yang melekat sejak dulu, LPTP  tetap eksis menjalankan aktivitasnya bekerja untuk kemashalatan umat manusia. Banyak pengalaman yang diperolehnya selama kurun waktu yang cukup panjang itu. Berbagai pengalaman yang diperolehnya itu menjadikan LPTP sebagai lembaga tempat referensi atau tempat magang.
Dalam rangka memperingati usianya yang ke 35 ini LPTP menyelenggarakan acara refleksi. Beberapa anggota komunitas LPTP terutama yang berada di Solo dan Jogja diundang hadir di Kantor LPTP Palur. Beberapa mitra LPTP seperti dari Insist dan aqua juga hadir dalam agenda refleksi 35 tahun ini. Mereka yang pernah aktif di LPTP pada masa lampau juga ada yang datang. Sebagai nara sumber utama adalah Dawam Rahardjo yang merupakan senior sekaligus adviser LPTP.
Refleksi yang diselenggerakan siang hari ini dibuka oleh Alim Muhammad yang merupakan sekretaris Badan Pengurus Yayasan LPTP. Ia mengucapkan selamat datang kepada mereka yang mau hadir di Balai Marsudi Sudjak pada hari ini. Selanjutnya Hari Mulyadi yang  merupakan sekretaris Dewan Pembina Yayasan LPTP menyampaikan sambutannya dan mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dawam Rahardjo serta rombongan dari Insist yang juga hadir siang ini. Selesai acara ceremonial sambutan, irfan Maryono yang juga dari Dewan Pembina Yayasan LPTP memfasilitasi agenda refleksi ini.
Ahmad Mahmudi yang merupakan Ketua Badan Pengurus Yayasan LPTP menginformasikan sekilas tentang LPTP. Disampaikan oleh ketua Badan Pengurus  Yayasan LPTP bahwa ketiga penggagas LPTP pada tahun 1978 sudah almarhum semua, namun cita-citanya tetap dilanjutkan hingga sekarang ini. Gagasan rencana pendirian LPTP dulu disebarkan dan direalisir secara bertahap. Salah satu orang yang concern terhadap gagasan itu adalah Dawam Rahardjo yang saat itu aktif di LP3ES dan memiliki jaringan kuat. Lewat bantuannya terwujud bengkel LPTP yang saat itu merupakan bantuan dari USAID. Lewat bengkel itulah dimulainya beragam rekayasa TTG untuk berbagai pengembangan pertanian, usaha kecil dan pemberdayaan masyarakat.
Secara sekilas juga disampaikan selama 35 tahun cukup banyak yang telah dilakukan oleh LPTP. Dengan prinsip pengembangan sumberdaya yang ada dan dikelola semaksimal mungkin agar memberi manfaat yang baik, LPTP terus bekerja dari dulu hingga sekarang ini.
“Sekarang ini ada sekitar 75 staf LPTP  yang mengembangkan berbagai program di lapangan.  Di antaranya adalah  program penataan lingkungan di Wonosobo, program penataan kawasan di Watuneso NTT, program penataan kawasan sub das Pusur di Klaten,” demikian disampaikan oleh Ahmad Mahmudi.
Selesai itu Prof. Dawam Rahardjo menyampaikan pemikirannya tentang pengembangan perekonomian rakyat. Disampaikan olehnya bahwa selama ini perekonomian dikuasai oleh asing. Kita tentu tidak berharap itu terjadi dan ingin perekonomian Indonesia dikuasai rakyat. Strategi yang bisa dikembangkan adalah dengan pola desa mengepung kota, memberantas setan desa dan kota. Pedomannya adalah trisakti yang pernah disampaikan dulu oleh Bung Karno. Tetapi itu dibalik mulai dari kebudayaan dulu. Kita  harus mengubah mainset dengan teori kebudayaan, misalnya harus memakai produk dalam negeri dan harus konsekuen.
“Kita yakin rakyat akan berperan dominan dalam industri kecil. Mesin kita ganti dengan tenaga manusia. Kita  kalahkan industri tekstil  dengan teknologi tradisional yang mampu mengalahkan industri masal dengan seni. Anak  kecil saja mampu menggambar batik dengan baik dan itu sebenarnya keuangglan kita. Kemudian kita eksport batik itu ke negara lain. Untuk  itu kta harus memiliki kepribadian yang kuat,” demikian disampaikan oleh Prof. Dawam Rahardjo.
Lebih lanjut Dawam mengatakan bahwa kita  jangan menanam padi di sawah  saja mengingat jumlah sawah semakin terbatas. Di  luar sawah misalnya di pekarangan, hutan, disela-sela kelapa sawit juga bisa ditanami terutama tanaman pangan non beras. Misalnya umbi-umbian. Kita harus bisa menciptakan pangan baru non beras. Kalau  kita rawat dengan baik, maka hasilnya akan baik pula. Misalnya iles-iles atau porang itu sangat disukai oleh orang Korea dan Jepang. Di Sulawesi orang diorganisir sedemikian rupa oleh swasta untuk menanam porang dan memang menguntungkan.
“Kita  harus mengorganisir diri tidak hanya bertanam porang, tetapi yang lain misalnya ganyong dan lain-lain. Kuncinya  harus diolah terlebih dahulu. LPTP harus bisa merekayasa alatnya dan menjual alat itu,” demikian disampaikan oleh Dawam Rahardjo.
“Menurut saya kita harus kembali ke khitoh lembaga ini,” kata Dawam lagi. “Gagasan  saya kita kembali ke khitoh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan yakni kembali ke rakyat dan merebut perekonomian rakyat.”
Usai  pemaparan dari Prof. Dawam dilakukan diskusi panjang lebar. Menurut Irfan, apa yang disampaikah oleh Prof. Dawam Rahardjo selalu memberi inspirasi pada kita semua. Dengan  teknologi seperti itu kita sebenarnya sangat mudah mengembangkan rakyat di daerah, tetapi kita juga harus melakukan pendidikan bagi konsumen.
Agenda refleksi yang diisi dengan ceramah dari senior LPTP itu berlangsung sampai sore. Acara  itu kemudian diakhiri dengan potong tumpeng yang dilakukan oleh Dawam Rahardjo. Potongan tumpeng itu diberikan pada dua aktivis LPTP yang paling muda yaitu pada Sri Hayati dan Emi yang saat ini sedang menangani program LPTP di Polanharjo Klaten.
Usai itu dilanjutkan dengan makan bersama di halaman Balai Marsudi Sudjak LPTP. Seperti biasanya LPTP menyediakan beragam makanan dan minuman. Tengkleng sebagaimana biasa meskipun sudah disediakan tiga panci besar paling cepat habis diserbu oleh anggota komunitas LPTP.
Agenda refleksi sekaligus peringatan ulang tahun LPTP itu berjalan lancar. Habis magrib sebagian dari mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sebagian lagi masih melanjutkan diskusi dengan Prof. Dawan sampai tengah malam.
]]>
http://lptp.or.id/refleksi-35-tahun-lptp/feed/ 0 338
Launching Program IPWD ( Integrated Pusur Watershed Development) http://lptp.or.id/launching-program-ipwd-integrated-pusur-watershed-development/ http://lptp.or.id/launching-program-ipwd-integrated-pusur-watershed-development/#respond Thu, 14 Nov 2013 11:05:20 +0000 http://lptp.or.id/?p=344 Hari Senin, tanggal 4 November 2013, LPTP  melakukan launching program IPWD. Program IPWD merupakan program pengembangan kawasan sub Das Kali Pusur hasil kerjasama LPTP dengan Danone Aqua. Program ini pada tahap awal dilaksanakan di tiga desa yaitu Desa Mundu, Polan dan Sudimoro yang berada di kawasan sub Das Kali Pusur. Ketiga desa itu berada di Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. Pada hari itu, LPTP sengaja mengundang beberapa orang perwakilan dari tiga desa tempat kegiatan nanti akan dilaksanakan.

Beragam warga yang hadir dalam acara itu. Perangkat  pemerintahan Kecamatan dan aparat pemerintahan desa hadir di rumah joglo tempat LPTP selama ini bermarkas. Paling banyak adalah warga tiga desa yang tergabung dalam kelompok tani. Mereka tergabung dalam  kelompok Margo Mulyo, Usaha Tani, Marsudi Makmur 1 dan 2, kelompok Tani Makmur, Sri Mulyo, P3A Ngudi Makmur, Rejeki Agung, Setyo Budi Utomo, Daya Guna, Rukun Agawe Sentosa, Bangun Dadi, Bina Tani, Makmur Lestari dan  Pangudi Rejeki. Ada 58 orang yang hadir dalam acara itu.

Tidak seperti acara launching di supermarket yang penuh hura-hura, agenda launching program ini diselenggarakan secara bersahaja. Acara ini lebih bersifat menjelaskan tentang rencana program pada perwakilan masyarakat di tiga desa serta pada perangkat pemerintahan setempat.

Agenda launching ini dibuka oleh Sulistyo yang merupakan bendahara Yayasan LPTP pada pukul 10 siang. Sambil membuka acara, ia mengenalkan tiga orang yang akan memaparkan program kerja IPWD dan microfinance itu. Mereka adalah Sony Sukada dari Danone Aqua, Ahmad Mahmudi yang merupakan ketua BP YLPTP dan Surur Wahyudi yang akan menangani program micro finance nanti.

Sony Sukada dari Danone Aqua mengatakan bahwa kerjasama Danone dengan LPTP diawali pada  tiga desa dulu. Dalam  melaksanakan program ini dilakukan pendekatan yang berbeda, bukan pendekatan makro tapi dengan pendekatan mikro. Pengalaman Danone Aqua yang dulu lewat pendekatan makro ada hal-hal kecil yang sebenarnya penting menjadi terlupakan.

Bersama dengan LPTP akan dilakukan pilot project dengan pendekatan terpadu pada tiga desa lokasi kegiatan. Di Desa Polan pendekatannya dengan pertanian terpadu. Di desa ini semua sumber daya lokal akan dimanfaatkan.  Kalau di Desa Sudimoro pendekatannya lebih pada pengembangan tanaman jagung secara terpadu. Di sini akan dikaitan dengan pengembangan biogas sebagai sumber energi alternatif. Di desa ini terdapat banyak ternak sapi yang limbahnya bisa dimanfaatkan untuk biogas. Sedang untuk Desa Mundu dilakukan konservasi terpadu.

“Program yang dikembangkan dalam pilot project ini pendek-pendek supaya bisa mengukur hasilnya. Jangka waktu pilot project ini 6 bulan. Dengan begitu kita bisa segera tahu apa yang kita rencanakan dapat tercapai dalam 6 bulan ke depan. Setelah itu akan dimulai program pereode berikutnya,” demikian disampaikan Sony Sukada.

Selesai paparan ringkas dari Sony dilanjutkan oleh Mahmudi yang merupakan ketua Badan Pengurus Yayasan LPTP. Ia mengajak warga yang hadir mengenang daerah Klaten yang memiliki sejarah masa lalu yang indah sebagai salah satu daerah penghasil beras. Sebagai daerah yang pernah menjadi penghasil beras maka warganya perlu untuk bergerak maju kembali dengan fokus pengembangan sumber-sumber pangan, sumber air dan pengembangan energi alternatif.

“LPTP ingin dijadikan kawan dekat dalam belajar dan bekerja bersama dengan petani. Kami ingin mengajak bersama bekerja dan belajar, mengatasi hama dan meningkatkan produksi serta meningkatkan sumber daya yang ada,” demikian disampaikan Mahmudi.

LPTP dalam melaksanakan program IPWD ini melakukannya dengan pola pendekatan yang biasa dilakukannya. Pendekatan yang digunakan LPTP tidak  mengajari,  mendekte atau memberi, tapi   dengan  berbagi pengalaman, pengetahuan dan sekaligus membuat contoh-contoh dengan kelompok-kelompok yang ada seperti dengan kelompok tani, kelompok ternak atau kelompok usaha.

“Program yang akan dikembangkan LPTP intinya ada dua,” lanjut Mahmudi.  “Yang pertama, LPTP hadir untuk mengajak secara secara bersama-sama memperbaiki sistem ekologi di kawasan ini. Berdasarkan penelitian, daya dukung semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya. Padahal dulu Klaten terkenal sebagai gudang beras. Kita akan belajar bersama untuk meningkatkan kembali sumber daya yang ada. Kemudian yang kedua bagaimana meningkatkan system ekologi dengan meningkatkan sumber-sumber penghidupan  yang dalam waktu pendek ini akan fokus pada tiga hal. Tiga hal itu, pertama yang berkaitan dengan sumber-sumber pangan, yang kedua berkaitan dengan sumber-sumber air dan yang ketiga pada energi.”

Selama tiga bulan sebelum ini, LPTP sudah memulai membangun jaringan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di wilayah tiga desa. Di Desa Mundu membangun jaringan dengan  kelompok-kelompok tani dan ternak. Bahkan sudah merintis terdapatnya kelompok tukang yang memiliki keahlian membangun biogas. Di Desa Mundu dan Sudimoro sudah ada biogas sebagai percontohan. Biogas itu tukangnya dari desa itu sendiri.

Hama tikus selama ini memang memusingkan dan merugikan petani. Dalam kaitan memecahkan persoalan tikus itu, LPTP  bekerja bersama kelompok tani merencanakan melahirkan petani yang  ahli tikus. Mereka akan memahami habitat tikus, populasi tikus dan memahami predator lokal tikus. Salah satu predator tikus adalah burung hantu. Ada burung hantu yang makanannya khusus tikus. Di Polan nanti direncakan ada pusat pembelajaran dan penangkaran burung hantu sebagai musuh alami tikus. Di LPTP ada satu orang ahli burung hantu  yang sudah mengembangkan model ini di Demak dan Purwodadi. Semuanya berhasil. Dari waktu ke waktu bisa meningkatkan penurunan serangan hama tikus.

Di Desa Polan  basis kegiatan yang direncanakan adalah pertanian padi. Di situ nanti akan ada SL (Sekolah Lapang) intensif. Pada SL intensif  ukurannya bukan berapa kali pertemuan tapi apakah kemampuan petani berkembang, apakah ada penurunan hal-hal yang negatif.  Juga akan ada penangkaran benih-benih lokal.  Nanti akan ada laboratorium petani dalam upaya penurunan serangan hama.  Juga ada pengembangan pestisida organik. Petrisida ini bisa dikembangkan sendiri oleh para petani. Selain itu juga akan ada agencia hayati. Kelompok tani dan pemerintah desa sudah menyediakan lahan untuk pembelajaran petani secara intensif dan juga laboratorium serta tempat pertemuan-pertemuannya.

Pada  Desa Sudimoro, basis kegiatan yang direncanakan pengembangan budidaya jagung. Masyrakat desa ini memiliki pengalaman dalam budidaya jagung. Sejak bulan Juni, LPTP  mengembangkan lahan uji coba tanaman jagung dengan kelompok tani di desa itu. Masyarakat sudah melihat hasil dari uji coba itu. Di Desa ini direncanakan juga ada pembelajaran mengenai ternak. LPTP nanti akan membantu pengelolaan ternak yang lebih optimal terutama dalam pengelolaan limbah ternaknya. Berdasarkan pengalaman LPTP, kalau satu keluarga petani memiliki 4 ternak sapi sudah bisa memiliki sumber energi alternatif biogas. Biogas ini bisa dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan. Ia tidak perlu lagi membeli gas atau mencari kayu.  Cukup memasak dengan biogas saja.

Kalau di Mundu program yang dikembangkan adalah konservasi terpadu. Di kawasan ini terdapat gejala belum optimalnya pengelolaan lahan yang ada.  Perlu ada integrasi berbagai pengelolaan lahan yang ada. Jika ada ternak akan diintegrasikan dengan ternak. Di samping itu desa ini juga kaya dengan budidaya  umbi-umbian atau empon-empon. Rencananya jika produksinya baik, LPTP akan mengajak mereka belajar melakukan ekstrak. LPTP memiliki unit rekayasa TTG (Teknologi Tepat Guna) yang nantinya dapat membantu peralatan TTG dalam mengolah hasil  budidaya umbi-umbian itu.

KEGIATAN PEMETAAN POTENSI DESA
Selain kegiatan pertanian, peternakan, konservasi dan energi, dalam program IPWD ini juga terdapat kegiatan membuat system database desa. Kegaitan  ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah desa yang selama ini sering mengalami kesulitan dalam hal yang berhubungan dengan database.

Sering desa mengalami kesulitan saat harus menyiapkan data-data desanya secara detail dan cepat. Nanti bersama pemerintah desa dan masyarakat desa, LPTP akan membuat sistem database desa yang isinya mencakup  keselurahan apa saja yang penting yang ada di desa itu. Setelah selesai nanti akan diserahkan satu unit komputer untuk pengelolaan database kantor desa.

Dalam penyusunann database desa ini partisipasi masyarakat dibutuhkan untuk memberikan informasi secara detail. Nanti akan ada warga yang dilatih bagaimana memetakan geospasial dengan GIS, input data dan cara operasionalnya.  Sistem ini nantinya secara terus menerus dapat di up date. Dengan adanya sistem database itu bisa dijadikan dasar bagi pemerintah desa untuk membuat perencanaan pembangunan jangka pendek maupun jangka panjang.

MICRO FINANCE
Micro finance dibentuk dengan memperhatikan wilayah sub DAS Kali Pusur yang memiliki potensi tinggi dalam pengembangan sektor pertanian, peternakan dan usaha kecil.  Lembaga keuangan ini diharapkan dapat membantu permodalan bagi masyarakat di kawasan itu. Tujuan utama dari micro finance ini yang pertama adalah menyediakan modal untuk membiayai kebutuhan modal usaha bagi masyarakat di wilayah sub DAS Kali Pusur. Kemudian yang kedua membantu tersedianya wadah bagi masyarakat untuk memudahkan akses terhadap permodalan sehingga usaha masyarakat semakin berkembang.

Ada empat jenis layanan yang dikembangkan oleh micro finance ini pada tahap awalnya. Yang pertama layanan pinjaman atau pembiayaan untuk usaha pertanian, kedua layanan pembiayaan usaha peternakan, ketiga layanan pembiayaan usaha perikanan dan keempat layanan pembiayaan usaha berbasis rumah tangga (home industry) dan pedagang pasar.  Keempat layanan itu dianggap potensial untuk dikembangkan di kawasan sub DAS Kali Pusur.

Persyaratan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan dari micro finance juga mudah. Warga masyarakat yang berminat cukup menyediakan  copy KTP, memiliki usaha dan ada agunan. Satu tambahan lagi, peminat juga harus menjadi anggota suatu kelompok baik itu kelompok tani, kelompok  ternak atau kelompok usaha lain. Untuk sementara ini micro finance berkantor di kantor kegiatan LPTP di Dusun Teseh Desa Wangen, Kecamtan Polanharjo Kabupaten Klaten. Mereka yang berminat terhadap micro finance ini bisa mendatangi kantornya setiap hari kerja, mulai Senin hingga Jumat.

]]>
http://lptp.or.id/launching-program-ipwd-integrated-pusur-watershed-development/feed/ 0 344
Angi Ria dari Ujung Sikka http://lptp.or.id/angi-ria-dari-ujung-sikka/ http://lptp.or.id/angi-ria-dari-ujung-sikka/#respond Mon, 16 Sep 2013 11:46:40 +0000 http://lptp.or.id/?p=326 Kearifan Dalam Menyikapi Bencana
Dusun Gaikiu terletak di desa Bu Utara Kecamatan Tanawawo sekitar 75 km  arah barat daya kota Maumere. Dusun itu dikeliling ladang dan terletak di kawasan hutan. Sulistyo, salah seorang team LPTP yang sedang melaksanakan program LPTP di kawasan NTT mendatangi sebuah lepa (pondok di ladang) untuk menemui Yosep Wondo, lelaki ramah paruh baya yang menjadi mosalaki (ketua adat) suku Tana Senda. Tidak mudah untuk sampai ke situ. Ia harus menempuh perjalanan cukup panjang  dengan jalan kaki. Ia harus melalui jalan setapak rindang penuh pohon kemiri, pohon aren yang mulai berbuah dan rumput ilalang yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya.
Orang luar tak ada yang menyangka desa indah yang penuh kedamaian ini akrab dengan bencana angi ria (angin kencang). Secara arif penduduk desa ini berusaha bersahabat dengan bencana angi ria yang rutin datang ke desa itu.   Berikut adalah paparan dari perjalanan Sulistyo yang baru saja menemui mosalaki  suku Tana Senda tentang desa terpencil yang memiliki kearifan dalam menyikapi ancaman bencana yang rutin datang ke desa itu (Red).

Yosep Wondo (50 tahun) merupakan ketua adat suku Tana Senda. Lelaki paruh baya itu ramahdan selalu menyambut tamunya dengan senyum dari bibir yang  memerah karena kegemarannya mengunyah sirih pinang yang dilakukannya sejak remaja. Hari-hari Yosep Wondo lebih banyak dihabiskan di lepa berukuran 3 kali 1,5 meter. Lepa itu dibuat panggung berketinggian 2 meter dan beratap alang-alang. Dindingnya dari bambu dan terletak di tepi ladang dan sawah keluarga besarnya. Isterinya, Maria Setu berusia 50 tahun baru saja memunguti buah kemiri yang  jatuh dari pohon di sekitar pondoknya. Pohon kemiri yang sudah mulai berbuah itu usianya sekitar 6-7 tahun. Jumlah pohon kemiri yang dimiliki keluarga Yosep sekitar 20 pohon dan tersebar di tanahnya. 
Yosep bercerita kalau tahun ini panennya cukup baik dibanding dengan tahun kemarin. Padi dan jagung di sini ditanam secara berselang-seling. Sekitar  1 meter jaraknya dari jagung dibawahnya ditanami padi ladang. Menurutnya tahun kemarin angin kencang yang melanda desanya merusak tanaman pangan dan komoditi yang dimiliki warga. 
Menurut Yosep, desanya setiap tahun dilanda angin kencang. Mereka menyebutnya  angi ria. Angin kencang terjadi sekitar bulan Desember sampai Maret bahkan April. Angin kencang biasanya terjadi satu sampai tiga jam tanpa henti setiap harinya, bisa terjadi malam atau siang selama sebulan penuh. Angi  ria ini terjadi sejak nenek moyangnya dahulu tanpa diketahui kapan mulai ada. 
Secara geografi Desa Bu Utara terletak di  Lintang Selatan S 8°42’846  – S 08°43’276 dan Bujur Timur E 121°57’545 – E 121°58’176 dengan ketinggian dari 601 – 1090 meter dari permukaan air laut. Hampir seluruh desa merupakan bentangan alam yang berbukit-bukit. Pemukiman  masyarakatnya bergerombol sebagaimana desa lain. 
Saat menjelang musim angin kencang tiba, masyarakat bersiap diri dengan memberikan beban pada atap rumahnya dengan kayu besar, bambu, batako, pipa–pipa besi dan sebagian dengan batu-batuan. Di  setiap sudut rumah tampak pengikat rumah dari kawat, tali dan rotan yang diikatkan dengan kayu penopang rumah. Tali-tali itu diikatkan pada patok yang terbuat dari kayu atau bambu yang ditancapkan ditanah. 
Untuk  rumah panggung, tiang atap rumah diberi tali rotan atau ijuk yang diikatkan pada papan kayu dan ditindihkan dengan batu yang besar di bawah rumah. Semua  itu dilakukan untuk mengurangi risiko roboh atau terbangnya atap rumah ketika angin menerjang pemukimannya. Batu besar sebagai pemberat papan kayu itu biasanya disebut batu kape. Orang  luar akan takjub dan heran  melihat pola pengamanan rumah seperti itu. Itu terjadi antara bulan Desember sampai Maret saat musim angin kencang.
Untuk rumah panggung, tumpukan batu besar  digunakan untuk mengganjal kayu dan  itu  diikat dengan rotan serta tali ijuk. Batu itu berfungsi sebagai pemberat agar atap kayu tidak terbang saat dilanda angin kencang. Ada keyakinan bahwa batu kape yang diikat dengan rotan atau ijuk lebih kuat dibanding dengan patok yang diikat dengan kawat atau tali plastik sebagai pengikat rumah.
Kearifan local dalam membangun rumah
Bentuk bangunan rumah di desa Bu Utara sebagian besar sudah beratap seng. Sebanyak 252 rumah sudah beratap seng. Jumlah rumah panggung 80 rumah dan tidak panggung 172 rumah. Rumah panggung tersebar di setiap kampung dari 14 kampung yang ada di desa. Sedangkan rumah yang beratap seng 252 rumah dan beratap alang-alang 20 rumah saja.
Sebelum membangun rumah masyarakat Desa Bu Utara memiliki kearifan lokal dalam memilih dan memastikan kelayakan suatu tempat untuk bisa dibangun rumah atau tidak oleh pemiliknya. Caranya sederhana saja. Sebuah  botol diisi penuh air dan ditutup rapat. Botol itu kemudian dipendam ke dalam tanah di tempat dimana rumah akan dibangun. Sebelum lubang tempat botol itu ditutup dengan tanah, orang yang diberikan wewenang untuk menguburkan botol tersebut mengucapkan janji atau sumpah.

“Saya menguburkan botol berisi air penuh ini ke dalam tanah. Jika pada saatnya nanti botol ini diambil dan airnya tetap penuh, maka diizinkan untuk membangun rumah di tempat ini, tetapi jika airnya berkurang maka belum diizinkan untuk membangun rumah di tempat ini.”

Begitu yang diyakini masyarakat daerah itu. Rentang waktu penguburan botol antara 1 minggu hingga 1 bulan. Jika nanti saat diambil kembali airnya berkurang, maka tempat tersebut tidak dapat dibangun rumah. Jika air dalam botol itu tetap penuh maka tempat itu diyakini nyaman bagi pemilik untuk membangun rumah. Keyakinan itu dipegang teguh oleh seluruh warga masyarakat desa itu.

Warga masyarakat desa juga memiliki kearifan lokal lain pada saat hendak membangun rumah yang dinamakan mbetha. Mbetha ini merupakan saat peletakkan batu pertama. Sedang untuk bentuk bangunan rumah, masyarakat menggunakan model 2 air dan 4 air. 
Model 2 air maksudnya model atap dengan 2 sisi tempat jatuh air (air hujan) atau aliran air. Bentuk ini terbilang murah karena tidak butuh banyak biaya khususnya untuk beli seng, batu, semen, pasir dan kayu. Untuk model 4 air merupakan model atap dengan 4 sisi tempat jatuhnya air (air hujan) aliran air. Model ini biayanya besar tetapi keuntungnya bisa tahan terhadap angin dan banyak ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara.
KEARIFAN MENYIKAPI BENCANA
Sebelum terjadi angin besar ada tanda-tanda baik dari alam yang bisa dilihat masyarakat atau dari mimpi orang-orang adat. Pertanda dari alam bisa dilihat dari adanya awan hitam yang membentuk garis panjang bergerak dari selatan ke utara dengan cepat dan gerimis pun mengiringinya. Awan hitam berbetuk garis panjang ini mirip sebuah lekuk ular panjang di langit. 
Selain itu juga dapat dilihat dari hasil pertanian buah-buahan  yang ditanam warga. Buah-buahan sangat lebat, baik itu buah mangga, jeruk, alpukat serta bunga jagung yang lebat juga merupakan tanda dari alam kalau musim angin akan kencang sekali. Sedangkan dari para pemuka adat biasanya melalui mimpi. Ada  yang bermimpi bertemu dengan  rombongan atau seorang yang naik kuda hitam dari selatan ke utara. Yang bermimpi begitu tidak hanya dua atau tiga orang namun banyak orang terutama mereka yang masih memiliki keturunan darah adat.
Ketika angin kencang mulai melanda ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dilakukan oleh adat di desa. Di antaranya adalah tidak boleh mengenakan baju merah, menimbulkan suara-suara keras seperti memukul kayu, membunyikan musik dan tidak boleh berteriak teriak serta dilarang meninggalkan atau mengosongkan rumah. Jika ditinggalkan menurut keyakinanan masyarakat si angin merasa rumah tersebut tidak berpenghuni. Angin pun akan menerjangnya hingga luluh lantak. Selain itu warga tidak boleh ke ladang dan kebun, tidak boleh membawa parang dengan tanpa sarung atau penutup. Yang pasti warga tidak boleh meninggalkan rumah sekencang apapun angin bertiup. Warga juga tidak diperkenankan menunggangi menunggai kuda untuk  berjalan.  
Suara-suara keras yang ditimbulkan diyakini akan menjadikan angin lebih kencang. Suara  yang ditimbulkan oleh angin sudah besar dan dianggap angin ada yang menyainginya.  Sedangkan larangan tidak boleh berladang atau ke kebun dikhawatirkan akan terhempas angi na atau tertimpa pohon yang tumbang. Sedangkan parang yang tidak pakai sarung dinyakini merupakan tantangan untuk melawan nenek moyang angin yang sedang lewat.  Ada  juga yang menyakini jika tidak diberi sarung akan mendatangkan petir dan akan merenggut korban jiwa bagi yang membawanya. 
Ketika angin reda di setiap harinya, masyarakat langsung mengambil kebutuhan makan dengan mengambil sisa-sisa tanaman yang masih bisa dimakan dan tidak rusak oleh angin. Mereka juga melihat ternaknya yang diikat di ladang atau kebun serta mengambil air bersih. Biasanya tanaman yang diambil untuk makan dan dibawa ke rumah adalah umbi-umbian, misalnya talas, ubi kayu, ubi rambat. Ketika angin mulai kencang lagi, masyarakat bergegas kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga sambil membawa bahan makanan dari kebun. 
Hampir semua persawahan yang digarap warga masyarakat dengan luasan 66,5 ha yang terdiri 44 ha sawah ladang dan 22,5 ha sawah pengairan rusak karena angin. Kerusakan semakin besar  jika angin datang ketika mulai panen. 
Pada tahun 2012 tanaman pangan dan komoditi seluas 120 ha rusak yang terdiri dari kemiri, kakao, kopi, buah-buahan dan sayuran. Sebagian  masyarakat yang memiliki lumbung menyimpannya di lumbung sebagai cadangan makan jika terjadi bencana angin kencang. Sebagian lagi menyimpannya di rumah dalam sebuah kamar yang berfungsi sebagai gudang. Di desa ini terdapat 105 lumbung yang masih berfungsi. Bentuk dari bentuk lumbung seperti rumah panggung yang ukurannya 1 x 2 meter atau 1x 3 meter yang berdinding bambu dan beratap alang-alang. Lumbung dibangun di sekitar rumah atau di lingkungan ladang, sawah atau kebun. Lumbung  sangat berarti bagi masyarakat desa itu karena merupakan tempat menyimpan hasil panennya.
Namun sekarang masyarakat menyimpan bahan pangan dan cadangan pangan tersebut di dalam rumah yang mereka sebut gudang. Perubahan sikap masyarakat itu karena adanya pengalaman bahwa menyimpan di lumbung bias roboh dihempas angin,  alasan yang kedua biaya cukup mahal, alasannya berikutnya berkurangnya hasil panen yang disimpan di lumbung tersebut.  Secara praktis masyarakat menyimpannya di dalam rumah yang dekat dengan dapur dan mudah mengontrolnya jika ada cadangan pangan atau bibit yang rusak. 
Masyarakat sekarang pada umunya menyimpan bahan pangan di dalam rumah dengan jumlah yang tidak sebanyak jika dibandingkan dengan warga yang memiliki lumbung. Persediaan pangan yang disimpan di dalam rumah hanya cukup untuk 1-2 minggu saja. Berbeda dengan yang memiliki lumbung, mereka menyimpan bahan pangan cukup sampai panen di musim berikutnya.
Pada Maret 2012 terjadi angin yang mengakibatkan rusaknya tanaman pangan dan sebanyak 39 rumah roboh. Sebuah bangunan sekolah atap sengnya kabur terangkat. Ada 42 lumbung dan pondok di ladang roboh.  Sebuah gereja (kapela) seng sebagai atapnya juga kabur sejauh 50 meter. Banyak pohon-pohon yang tumbang di landang dan menghalangi jalan-jalan di desa sehingga akses ke desa lumpuh.
Budaya dalam menjaga angin tidak secara khusus dilaksanakan. Namun adat untuk mengurangi kencangnya angin, dengan memberikan sesaji kepada nenek moyang berupa  beras, sirih, pinang, bakau di batuan adat (mosamase di depan rumah adat) dilakukan oleh (mosalaki) ketua adat suku Tana Senda.
Sulistyo
]]>
http://lptp.or.id/angi-ria-dari-ujung-sikka/feed/ 0 326
Kampung Puuara yang Masih Bertahan http://lptp.or.id/kampung-puuara-yang-masih-bertahan/ http://lptp.or.id/kampung-puuara-yang-masih-bertahan/#respond Mon, 16 Sep 2013 02:00:44 +0000 http://lptp.or.id/?p=343 Team LPTP melakukan pemetaan rumah dan penduduk di Kampung Puuara, sebuah kampung tua yang semakin sepi karena ditinggalkan penduduknya. Kampung ini berada di kawasan terpencil di NTT. Dengan cermat,  Sulistyo salah seorang dari team LPTP yang bertugas di NTT ini  menelusuri, meneliti dan merekam kehidupan warga kampung Puuara di tempat terpencil dan sepi ini. Paparan selengkapnya dari tulisannya dapat di baca seperti di bawah ini. (Red)
Jumlah penduduk di Kampung Puuara tidak banyak Jumlahnya hanya 19 jiwa laki-laki dan 26 jiwa perempuan. Totalnya  hanya  45 jiwa. Dulu sebelum tahun 1992 jumlah rumah agak padat, namun sekarang hanya tinggal 7 rumah. Mereka banyak yang pindah di tempat lain meskipun masih di sekitar kampung Puuara. Kepindahan mereka karena ada kekhawatiran terjadi  gempa bumi yang dulu pernah dialaminya. 
Penduduk kampung Puuara ada yang pindah ke  Kampung Huboua di desa Bu Utara. Ada  2 KK atau rumah yang pindah ke situ. Selain itu juga ada yang pindah  ke kampung Meja di desa Watuweti sebanyak  2 rumah. Yang pindah  ke kampung Tadhomage di desa Bu Utara 1 rumah, pindah ke kampung Rema di desa Bu Utara  2 rumah, ke kampung Watusipi di desa Bu Selatan sebanyak 2 rumah.
Kampung Puuara bisa dibilang tua. Saat penjajahan Belanda dan Jepang kampung ini sudah ada. Menurut  warga setempat, banyak orang tua dan nenek moyangnya saat itu dijadikan pekerja paksa  untuk membuat jalan di Paga. Belanda dan Jepang sampai ke kampung itu dengan menunggang kuda hasil rampasan di jalan. Belanda dan Jepang mengetahui adanya perkampungan itu dari mata-matanya yang biasa disebut Kapiten. Kapiten ini adalah orang lokal yang masih memiliki hubungan dengan kerajaan atau pejabat kerajaan waktu itu.
Untuk penerangan penduduk di kampung ini mengandalkan genset.  Terdapat dua rumah yang memiliki genset.  Untuk menyalakan genset ini diperlukan bensin 1 liter dengan harga eceran Rp. 7.000,- yang dibeli di kampung Ndoko Desa Bu Selatan yang jaraknya 2 km dan juga di kampung Gaikui yang jaraknya 3 km. Waktu menghidupkan genset ini mulai jam 7-9 malam. Di kampung ini tidak ada yang memiliki televisi dan radio. Genset ini tidak setiap hari dihidupkan, tergantung ketika memiliki uang.
Sedangkan kebutuhan akan air bersih warga diperoleh dari mata air Wona yang berjarak sekitar 2 km dari pemukiman. Harga selang sebagai sarana mengalirkan air cukup mahal. Waktu itu harga selang Rp. 2.500.000,- per gulung yang panjangnya 250 meter. Selang itu khusus didatangkan dari Surabaya. Secara fisik selangnya berwarna hitam seperti selang pembungkus kabel bawah tanah dan sangat keras.
Mata air tersebut tidak pernah kering. Waktu  musim kemarau  debit airnya memang turun namun tidak sampai kering. Sarana air bersih yang disalurkan oleh selang ½ dim yang waktu itu difasilitasi PLAN  tidak sampai pada bak air yang telah mereka bangun. Selang itu harus dibagi untuk mengalirkan air pada warga Kampung Wolobela yang merupakan kampung tetangganya. Akibatnya penyaluran air saat itu terhenti karena kurang panjangnya selang. Jarak selang yang mengalirkan air terakhir dengan bak air  hanyan sekitar 100 m. Kondisi baik air itu  sekarang  rusak dan tidak terawat.
Sebenarnya warga secara bersama-sama pernah berupaya menambah saluran air dari program PLAN itu dengan bambu agar sampai ke bak penampungan. Namun banyak bambu yang dirusak oleh anak-anak. Kondisi itu membuat warga enggan untuk memperbaiki saluran tersebut.
KEBERSIHAN DAN KESEHATAN
Untuk kegiatan mandi dan BAB (buang air besar) masyarakat melakukannya di kebun atau di ladang. Kadang untuk anak-anak BAB dilakukan sekitar rumah saja. Limbah BAB anak itu langsung dimakan anjing dan babi peliharaannya. Sedangkan untuk kegiatan mandi orang dewasa dan anak-anak melakukan ketika sudah merasa kotor badannya atau 2-3 hari hari baru mandi. Mereka tidak memakai sabun dan gosok gigi.
Persalinan bayi di kampung Puuara tidak dibantu oleh bidan desa atau di rumah sakit. Kaum ibu yang akan melahirkan dibantu oleh Maria Aleksia (69 tahun) yang di kampung itu  sering disebut Dukun Kampung. Dia belum pernah diberikan pengetahuan dari kader posyandu atau dinas terkait dalam pendidikan persalinan bayi. Pengetahuannya diperoleh dari neneknya. Seingat dia sudah 7 bayi yang dibantu dalam kelahirannya dengan selamat semua. Pernah sekali dia menolong persalinan namun bayinya sudah mati dalam kandungan.
Untuk biaya membantu persalinan dia tidak pernah diberi uang, Kadang hanya diberi sirih pinang. Warga kampung itu semuanya memang masih memiliki ikatan kekeluargaan. Sedangkan untuk menjangkau Polindes desa di kampung Nuamuri yang berjarak 45 km harus ditempuh dengan jalan kaki dengan menyusuri bukit dan sungai. Di Polindes untuk pengobatan dan persalinan tidak dikenakan biaya apapun kecuali biaya pendaftaran sebesar Rp. 1.000,-  sekali saja. Rata-rata warga di kampung Puuara ini juga berobat ke Polindes atau membeli obat di Pasar Tedhumage Renggarasi. Obat yang sering dibeli adalah obat Insana, Antalgin, Parasetamol, Amoxilin. Harga obat itu sekitar 3  sampai 10 ribu rupiah. Penyakit yang sering dirasakan oleh warga seperti batuk, pilek, malaria, pusing dan diare ketika musim penghujan. Untuk obat tradisional mereka jarang sekali menggunakannya.
PENDIDIKAN
Anak-anak usia sekolah dasar di kampung Puuarai bersekolah di SD Wolobela di sebelah barat daya dengan menuruni bukit dan melewati sungai. Anak-anak itu untuk ke sekolah harus menempuh jarak 2 km dengan medan yang kemiringan 45 derajat dan waktu tempuh 1,5 jam ketika berangkat dan 2 jam untuk pulang. Ketika musim hujan tiba, Sungai Lika Songgo yang terletak di bawah perkampungan ini kadang banjir. Ketinggian airnya bisa mencapai  2 meter, sementara  lebar sungainya 5 meter. Hal ini membuat anak-anak yang bersekolah tidak bisa  bersekolah.
Di kampung ini terdapat  3 anak yang berhenti sekolah di kelas 3 karena jaraknya yang jauh. Biaya pendidikan untuk sekolah di SD negeri ini tidak dipungut biaya. Biaya dikenakan dengan pendekatan KK, misalnya satu KK memiliki 3 anak yang bersekolah di SD tersebut, maka KK tersebut membayar Rp. 5.000,- per bulan yang di bayar setahun sekali. Hal ini juga sama diterapkan jika ada KK yang memiliki 1 anak saja. Biaya itu dipergunakan untuk menggaji guru yang belum pegawai tetap atau PNS. Sedangkan untuk tingkat SMP anak dari kampung Puuara bersekolah di SMP di kampung Nuaria di desa Detubinga sebelah timur kampung.
PEREKONOMIAN
Warga di kampung di kampung Puuara  seluruhnya adalah petani pemilik sekaligus penggarap ladang atau kebun. Mereka memiliki lahan yang luasnya 1-3 hektar yang tersebar di sekitar pemukimannya. Namun ada juga yang lahannya  jauh dari pemukiman (sekitar 1-2 km). Mereka menggarap lahan dengan model ladang berpindah. Ladang berpindah ini biasanya mereka garap selama 3-5 tahunm, setelah itu mereka pindah ke lahan yang lain. Di  kawasan ini lahan yang dimiliki sangat luas dan lokasinya di daerah perbukitan. Menurut warga, untuk menggarap semua lahan  jika tidak dengan pola berpindah-pindah akan  menghadapi kendala tenaga dan waktu. Dalam pembukaan lahan baru, mereka membersihkan lahan yang akan ditanami  dengan cara menebang pohon dan membakar rumput yang tersisa.
Komoditi yang mereka geluti adalah tanaman kemiri, kakao dan kopi. Sekarang harga kemiri berkisar Rp. 18.000,00/kg. Untuk harga kakao Rp. 12.000,00/kg dan kopi Rp. 20.000,00 per kg. Hasil ini  dijual pada pengepul di dusunnya. Setiap hari selasa pengepul menjual kembali pada pedagang Cina dari Maumere di Pasar Renggarasi. Di kampung ini tidak terdapat kios atau warung untuk keperluan sehari-hari seperti gula dan garam. Kios terdekat di kampung Gaikui dan Ndoko yang berjarak 1-2 km.
Di Kampung ini terdapat satu pondok pembuatan minuman beralkohol atau moke dari pohon aren yang dimiliki oleh Yohanis Thomas. Hasil moke ini dijual ke Pasar Renggarasi. Hasil pembuatan moke juga dibagi tingkatan kelas. Dari kelas 1 yang sering disebut kelas bakar nyala sampai kelas 4. Harga per botol ukuran 700 ml tergantung kelasnya. Satu botol antara  Rp.20.000,-  sampai Rp.50.000,-. Untuk budidaya tanaman pangan, mereka menanam padi ladang merah dan hitam, jagung, kacang tanah, canthel (lolo), ubi kayu dan ubi jalar. Tanaman umbi-umbian untuk ketersediaan pangan mereka antara lain keladi (rose). Untuk tanaman sayuran seperti  daun ubi kayu, labo, lombok juga dibudidayakan. Di sini juga terdapat tanaman empon-empon seperti  jahe, kunyit dan lengkuas. Hasil panen mereka disimpan di lumbung (kebo) yang terdapat di sekitar rumah. Sekarang di kampung Puuara hanya tinggal 2 rumah yaitu Nikolaus Sele dan Yohanis Thomas. Sedangkan yang lain berada jadi satu dengan rumah induk.
ANCAMAN BENCANA
Setiap tahun sebagaimana di  kampung yang lain, di desa Bu Utara, kampung Puuara juga dilanda angin kencang yang terjadi sekitar bulan Desember sampai April. Ancaman angin kencang itu sering membuat seng atap rumah terangkat atau terbang, namun tidak ada rumah yang rusak parah. Dahulu rata-rata rumah di sini rumah berbentuk panggung. Namun sekarang hanya satu rumah saja yaitu rumah Martha Dee. Ada rumah yang dahulunya panggung sekarang panggungnya hampir menempel di tanah sepertinya rumahnya  Nikolaus Sele, Domianus Bedo dan Revinus Dorus.
Ketika terjadi bencana angin, masyarakat menyimpan ubi kayu dan jagung untuk persediaan makan yang disimpan di lumbung dan di rumah. Persediaan itu terbatas 2 hari saja. Ketika terjadi bencana angin dan kebetulan persediaan pangan habis, mereka terpaksa mengambil ubi kayu, keladi di ladang dan kebun. Hanya kaum laki-laki dewasa yang mengambil ubi kayu di ladang atau kebun mereka karena mereka harus melawan angin kencang. Mereka sering khawatir angin kencang itu merobohkan pohon dan menimpa orang. Dalam pengolahan pangan ubi kayu dan jagung hanya di rebus dan dibakar saja.Untuk bencana tanah longsor (kora bere) pernah terjadi tahun 1973 yang menewaskan 3 orang. Mereka yang menjadi korban bencana tanah longsor itu adalah Pada, Siwe dan Mbitu. Mereka berusia antara 26 tahun – 30 tahun. Tanah longsor tidak terjadi di pemukiman, namun terjadi di ladang atau kebunnya yang kebetulan di daerah sungai Muretre di bawah perkampungan. Tanah longsor ini terjadi di siang hari saat hujan lebat. Bencana itu terjadi  di bulan April 1973 dan masih diingat oleh warga kampung itu. Tanah longsor terjadi lagi pada tahun 1974 yang menewaskan Paulus yang kebetulan beradadi ladang. Bencana itu terjadai di siang hari saat musim hujan.
Selain tanah longsor dan angin, kampung Puuara pernah mengalami bencana kelaparan pada tahun 1978 sampai tahun 1980. Kelaparan terjadi karena tidak adanya persediaan pangan yang bias dimakan. Saat  itu memang terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Berdasar ingatan warga, ada 70 orang menderita busung lapar baik anak-anak maupun orang dewasa. Untuk mengisi perut dan pangan, mereka memakan buah kolang-kaling (fole moke), keladi (rose), batang pisang (ares) dan ondo (ubi hutan) atau gadung. Cara mengolah buah kolang kaling atau fule moke hanya dibakar dan diambil isinya lalu dimakan. Cara mengolah keladi hanya direbus lalu dimakan. Sedangkan batang pisang diiris-iris kecil terus dijemur dan dibuat tepung. Untuk  gadung diiris-iris tipis terus direndam air garam selama 3 hari, lalu dicuci dengan air yang mengalir atau disungai dan dijemur dan kemudian direbus.
Saat terjadi bencana kelaparan waktu itu,  seorang romo dari Jawa Frans Sarjono melihat langsung kondisi di kampung dan sekitar dusun Wolobela. Hasil pengamatan disampaikan pada pihak-pihak lain di Jakarta. Tidak lama kemudian datang bantuan beras dengan helikopter setiap hari selama 6 bulan yang mendarat di depan kantor desa yang saat itu berada di dusun Wolobela. Helikopter datang dengan membawa berkarung-karung beras untuk desa-desa yang dilanda bencana kelaparan, misalnya  desa Bu Utara, desa Renggarasi, desa Detubinga, Desa Bu Selatan, desa Watuweti. Setiap rumah diberikan beras satu karung untuk satu minggu. Kemudian disusul tenaga medis dari gereja dan pemerintah yang datang untuk memberikan pelayanan kesehatan. Penyakit yang banyak terjadi saat itu penyakit ISPA, diare dan busung lapar.
Melihat kondisi ini, pemerintah pada tahun 1980 menawari masyarakat untuk program transmigrasi lokal ke Pati Sumba di Kabupaten Sikka di sekitar pantai utara di timur laut dan Irian Jaya. Namun tidak semua warga bersedia ikut program tersebut. Mereka beralasan tidak mau meninggalkan tanah nenek moyang.
Dari tahun ke tahun penduduk Puuara pindah dan tinggal di kampung lain. Ketika seorang warga Donbosko Mara beusia 28 tahun ditanya apakah  nanti kampung Puuara ini akan hilang karena ditinggalkan warganya, ia menjawab bahwa itu tidak akan terjadi.
“Tidak mungkin. Di tanah  ini ada leluhur kami,” jawabnya tegas sambil menunjuk ke sebuah makam orang tuanya di depan rumahnya.  Jika sekarang ada orang yang pindah itu hanya ada 3 alasan saja. Pertama  karena alasan air, kedua listrik dan ketiga karena sarana jalan. Sementara untuk masalah pangan masih cukup berlimpah yang bisa diperolehnya dari  kampung yang lain. Sedang untuk akses jalan sudah diinisiasi warga dari kampung Nuamuri Desa Detubinga ke kampung Puuara. Untuk menuju kampung ini memang hanya bisa melalui jalan setapak melewati bukit, jurang dan sungai.
]]>
http://lptp.or.id/kampung-puuara-yang-masih-bertahan/feed/ 0 343
Program Partners For Resilience (PFR) http://lptp.or.id/program-partners-for-resilience-pfr/ http://lptp.or.id/program-partners-for-resilience-pfr/#respond Mon, 19 Nov 2012 11:53:34 +0000 http://lptp.or.id/?p=332 URAT NADI WATUNESO

Perjuangan Ibu Mendapatkan Air Kehidupan
Lio Timur – Ende. 2012. Kalurahan Watuneso, merupakan salah satu dari 4 desa Program Partners For Resilience LPTP, suatu hari ketika melakukan kajian Participatory Disaster Risk Assesment setelah semua lingkungan/dusun saya jelajahi, kulihat dan kuikuti seorang ibu menjunjung dua drigen di kepala dan kedua tanganya mengangkat dua drigen, diikuti seorang anak yang baru umur belasan tahun menjunjung satu drigen di kepala dan satu drigen di tangan. Drigen yang terisi lima liter air penuh yang baru diambil dari sungai yang lebih terlihat batu-batu kali dibandingkan dengan air mengalir. Mereka berjalan dengan tatapan mata kuat menempuh jarak lebih dari satu kilometer terus membawa air di dalam drigen. Sungai tempat mereka mengambil air hanya terlihat batu-batu koral dengan warna abu-abu terang, warna terang itu muncul karena sinar dan panas matahari yang diserap oleh batu koral tersebut. Batu-batu koral dengan ukuran sebesar mobil sedan sampai dengan ukuran kepalan tangan orang sewasa sangat jelas terlihat. Sungai ini memberikan pemandangan menarik dengan hamparan batu koral sampai mata jauh memandang.
Di antara bebatuan di pinggir sungai ada seorang ibu tua yang sedang memindahkan batu-batu koral yang kecil sehingga menjadi lobang kecil. Ternyata lubang tersebut menjadi tempat penampungan air yang sedikit demi sedikit air akan terkumpul dari serapan dan siap untuk dimasukan dalam drigen. Air sungai yang masih tersisa mengalir tidak hanya untuk diambil untuk di masukan dalam lubang penampungan sederhana, akan tetapi ada juga digunakan untuk mandi dan mencuci oleh anak-anak dan perempuan yang rumahnya di sekitar sungai ini. Di sebelah sungai tersebut terdapat sawah dengan warna hijau dari beberapa petak. Teraliri air sedikit demi sedikit dari sungai penuh koral yang dibendung. Disungai ini juga terdapat traktor-traktor besar yang mengangkat batu-batu besar. Batu ini ditaruh di truk-truk besar untuk dipindahkan dari sungai ini ke tempat lain. Bendungan, lubang-lubang penampungan akan selalu didapati jika kita terus menelusuri sungai ini. 
Sungai ini berada di kelurahan Watuneso Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, tepat membelah kelurahan ini menjadi dua bagian. Masyarakat setempat biasanya mengatakan sungai ini adalah Lowo Lise. Lowo yang berarti sungai dan Lise merupakan nama Suku Lise. Lowo Lise ini merupakan paduan dari beberapa sungai yang menjadi satu dari daerah perbukitan atas. Di kelurahan Watuneso ini sungai ini membentang sampai dengan 4,75 Kilometer dan di kelurah ini juga Lowo Lise in bertemu dengan Lowo Bu yang menciptakan sungai ini menjadi lebih lebar. Lebar sungai ini membuat Negara ini membangun dua jembatan untuk menghubungkan jalan Negara ini terus dapat dilewati. Muara dari sungai ini adalah laut yang berapa tepat di akhir perbatasan kelurahan Watuneso. Dari kampung Watuneso Wawo, watuneso Wena, Kolijana dan Hutanggala, masyarakatnya tidak akan terlepas dari lowo Lise ini. Air minum, memasak, mandi, mencuci, kebutuhan ternak, persawahan dan kebudayaan akan terus dibutuhkan masyarakat Watuneso. Masyarakat sangat senang dengan adanya sumur gali di lingkungan mereka, akan tetapi kesenangan masyarakat untuk mandi, mencuci di Lowolise tidak dapat digantikan. 
Jika melihat interaksi manusia dengan sungai ini pada malam hari kita akan menemukan bapak tua akan melakukan membuka bendungan sungai. Bendungan sebelumnya pada siang hari airnya dialiri di sawah bagian atas, jika malam hari dibuka oleh bapak-bapak tua untuk dapat mengaliri sawah yang ada di bawah. Bersamaan dengan itu bapak tua tersebut telah meminta ijin kepada masyarakat yang diatas sungai untuk membuka bendungan selama satu malam agar sawah-sawahnya di bawah mendapatkan air. Kegiatan malam hari ini biasanya masyarakat ini mengatakan dengan mete air dan dilakukan jika air sungai sudah sedikit dan sulit.
Jika terus menelusuri sungai ini akan terus mendapati interaksi air, batu, lingkungan dengan manusia. Tetapi interaksi ini adalah interaksi yang tidak seimbang karena interaksi ini hanya salah satu yang membutuhkan yaitu manusia saja.  Meskipun interaksi tidak berimbang ini terus ada, sepertinya sungai ini selalu memberikan apa yang diinginkan oleh manusia di sekitarnya. Selalu dengan setia dan pasti memberikan kebutuhan air untuk penghidupan, batu dan pasir untuk pembangunan yang tidak pernah habis dan juga memberikan masyarakat disini pundi pundi uang untuk kehidupan dengan menjual batu-batu koral dan pasir yang ada. Meskipun sedikit demi sedikit kebutuhan ini terus berkurang. Batu-batu koral diambil dan dieksploitasi, lebar sungai terus berkurang air sudah pasti akan berkurang. Tetapi sungai ini selalu dengan mekanismenya mengembalikan dan merestorasi jalurnya setiap tahunnya. 
Setiap tahunnya pada musim panas, Lowo Lise akan memberikan air sangat terbatas dan juga sampai tidak memberikan air pada masyarakat yang berada di bawah akan tetapi sungai ini memberikan mata air-mata air di muara sungai dengan kesegarannya bagi masyarakat di bawah. Pada tahun tertentu sungai ini mengembalikan jalur dan haknya dengan memberikan limpahan air yang sangat banyak dibarengi pasukan bebatuan dan pasir yang berlari dengan kencang dan dasyat, meskipun jalur dan jalannya melewati persawahan dan ladang masyarakat di dekat muara. Biasanya masyarakat menyebutnya Banjir besar seperti pada tahun 2002 dan Lowo Lise mengatakan ini adalah mekanisme untuk selalu menyediakan kebutuhan manusia dan masyarakat Watuneso akan selalu membutuhkan sungai ini karena sungai ini telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Watuneso.  
Paga Beach, 28 November 2012 . Ade Irman Susanto
]]>
http://lptp.or.id/program-partners-for-resilience-pfr/feed/ 0 332